LABANG ARSIP

Puisi Weni Suryandari - Media Indonesia, 25 Januari 2015




Laut Air Mata

Yang aku tahu, udara berlubang
kematian sembunyi di balik karang
di bawah bulan keperakan pohon
trembesi pucat pasi, bau mayat di televisi,  berita basi

bermalam-malam kudengar burung gagak
meniti jarak hingga jarum waktu membidik
sunyi, segala sia sia. Jantung beku

kemanusiaan mati suri, seperti
menulis di pelepah busuk segala
mengutuk, terantuk pada imaji
negeri satu warna

Oh,kau yang mampir di rumah ibadah,
yang menjual ayat-ayat kesucian!
Tulislah di kening tentang kematianmu
sendiri. Larungkan pada laut air mata
dan kita berlayar di atas duka manusia
atas nama dogma dan tuhan tuhan kecilmu

2014


Atas Nama Kebenaran 

Kita tak pernah bisa menang atas kemarahan pada
mereka yang menutup pintu kejujuran
orang-orang tertindas di bawah kaki tirani
Terpinggirkan.

Kau tahu dengan apa orang-orang membela
kebenaran?
Dengan suara parau, doa air mata dan cabik luka
menganga di popor senjata

Kau tahu dengan apa orang orang bisa mengubur
dendam?
Dengan jarak waktu sepanjang pundakmu tak dapat
disentuh
beban kenangan yang berkejaran.

Ataukah senja diam-diam mengajak kita
bersembunyi
Di balik punggung sejarah yang kita tulis
dalam sunyi
Dan kebenaran mengabdi pada kepala tanpa
mahkota

2014 

Demi Waktu 

Seperti cermin;
Padamu kulihat diriku sama berteriak pilu
Pada lilin menyala juga pada hasrat di kepala
Saling memuja saling menjaga
Siang kepada malam, bulan kepada kelam
Biar menjadi tanda sebuah pintu rahasia

Di balik rimbun kisah-kisah rindu setia pada basah
Tanpa banyak kata-kata, doa terbang ke angkasa
Tuhanku, sampaikan surga, anganku jadilah nyata
Giringlah kami pada takdir keabadian

Demi waktu;
Laut dan gunung berjumpalitan, dada berdebaran
Mata hati, mata air, mata api, bakar getir
Setetes darah pada pengorbanan,
jauh lebih tajam dari kata

2014 

Sajak untuk Anak Negeri 

Biar kususun warna bunga untukmu
dan lampu kota yang seperti mata nasib
menatap jalan dan taman-taman lapar
kunisbatkan warna bulan pada kelahiran
anak-anak tak bertuan

Mari kubisikkan ayat-ayat kesunyian
untuk matamu, tajam doa dan kepiluan
Sedang jemarimu terkepal meninju udara
Para dewa masih dimabuk aksara dan asmara

Kita lupa pesta jalanan dan ornamen bendera
Sedang ketakutan telah lama meninggalkan lapar
Kegaduhan musim ini telah menunjuk keningmu
Dan negeri ini sekedar tempat menghitung angka 

2014

Kultus Doa

Disini kita masih menghitung jarak, bersama air mata,
hara bagi  bumi yang hampir kering  dan puisi hening
dar italun. Sedang kesunyian mengalun di tengah ombak purnama

Mekarlah kaupuisi yang tak terlihat, menarilah

Sementara kata-kata berbuah dari pokok zaitun
Berkalung rantai bulan yang meninabobokkan jiwa
dalam rahasia langit, sejarak tatapan bintang dari
kaki samudera,  putih menyala-nyala

Cahayamu kultus doa bagi jiwa patah

Bumi kini semakin mengecil, kita seperti ikan-ikan
dan kematian adalah hitungan yang terabaikan.

Oh bunga kudus, kembang kata, ombak purnama!

Robeklah jarak lempang hipokrasi elastis, tempat teori-teori
diperdagangkan, tempat kursi-kursi dipermalukan
topeng topengkertas terpasang di pohon bendera
               bukankah ini bumi manusia?

2014

Hujan Januari

Berlayarlah berlayar perahu kertas
Mainan masa kanak, waktu belum mentas
Menjemput langit berwajah laut saat
Matahari hampir merah, bersama afwah

Hujan menusuk kenangan di hulu jantung
Mencabik doa-doa yang bersetia pada bumi
Merendah, pada jalan berwajah sungai

Perahu kertas, berlayarlah berlayar
Ke sawah tenggelam, berenang nikmati bencana
Ibu-ibu menangis di layar sempit, waktu terhimpit

Bencana menandai tubuh negeri, bukan mengayun angan
Lewat kumandang barzanji dan romantisme musim dingin
Doa-doa dan kecemasam menghitam
Di lumbung langit, membawa bekal hari-hari depan

Terimalah mawar melati, sesajen jagad mayapada
Saat tembang kinasih menyayup lewat tarian gemulai
angin di bilik telingaku, dan daun daun musim yang berbisik
                ;matahari basah, awan melaju waktu ke waktu

Januari 2014

Puisi ini  dimuat di Media Indonesia, 25 Januari 2015

Weni Suryandari, Perempuan berdarah asli Sumenep, lahir di Surabaya 4 Februari. Sehari-harinya ia bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di SD Generasi Azkia, Bojongkulur, Bogor.  Menulis baginya adalah laksana mengalirkan seluruh kegelisahan yang tak bisa dibahasakan secara lisan. Dua pertiga waktu yang ada dalam satu hari dipergunakan untuk profesinya sebagai guru dengan segala aktivitas yang mewajibkannya secara profesi. Sisa waktu yang ada kemudian dipakainya untuk menulis, baik cerpen ataupun puisi. KABIN PATEH adalah sebuah buku kumpulan cerpen pertamanya yang diterbitkan oleh QAF Books, 2013. Penulis pernah memenangkan kategori terpuji dalam sebuah sayembara novelet di Tabloid Nyata tahun 2008, lewat judul “Kesetiaan Seorang Sri”. Karya cerpennya juga termuat dalam Antologi Cerpen Tinta Wanita 24 Sauh (Esensi Erlangga). Karya-karya cerpen lainnya terbit di berbagai media cetak, seperti Suara Karya, Majalah Kartini, Tabloid Masjid Nusantara, Tabloid Nova, Jurnal Nasional, dll. Selain itu penulis juga telah menerbitkan beberapa buku antologi puisi, antara lain: Merah Yang Meremah (2010), Perempuan dalam Sajak (2010), Kartini 2012 (2012), Antologi Angkatan Kosong-kosong (Dewan Kesenian Tegal, 2011), Kitab Radja dan Ratoe Alit (KKK, 2011), dan Beranda Senja (2010). Cerpen dan Puisinya juga termuat dalam Antologi 3 Tahun Komunitas Sastra Reboan (2010) dan Cinta Gugat (Antologi Puisi Sastra Reboan, 2013.