LABANG ARSIP

Puisi Roman Yan Zavin Aundjand || Perjumpaan Separuh Waktu – Bila Malam - Kau Bebani Aku dengan Rindu – Haruskah Kau Mati|| bagian IV




ditulis pada tahun 2005 s/d 2011

Perjumpaan Separuh Waktu

I/
syarifah, barangkali tentangmu yang kau titip padaku hendak melepas airmataku mengiringi langkahku pergi dari kotamu. tangan seakan tak mampu melambai—saat kau teriakkan dirimu pada salam perpisahan, “selamat jalan kasih!” katamu melempar kening

kini, airmata menjadi hujan kepala batu dan menguatkan relrel itu bergetar gaduh. sungguh aku tak ingin walau pergi hanya untuk ingin kembali. aku tahu bahwa perjumpaan kita kali ini cukup singkat; sesingkat aku mengecup keningmu. kenapa harus singkat perjumpaan? kenapa harus pergi pertemuan?
syarifah, di mana kau sebut namaku suatu saat nanti, maka aku akan datang kembali menjemputmu dengan sejuta janji dan sejuta mimpi bersamamu


II/
wahai perempuan yang telah kuketuk pintunya, kutitip rinduku dalam sajak setiamu. bahwa dengan cinta lewat runcing hujan aku datang, janji separuh waktu telah aku lunasi dengan segala yang sepi. namun, peristiwa debudebu dan kabutkabut di jalanan seakan menghalangiku pergi—tak ada jalan di depan pintu, yang ada hanya wajahmu

syarifah, mulut sudah tak lagi mahir mengucapkan sepatah kata untukmu, kecuali aku hanya ingin kita menjadi satu dalam satu kata “rindu”—dalam dekapan hangat dan kecupan masingmasing keringat. syarifah, lewat potongan bibirmu aku berjanji sehidup semati denganmu

III/
aku ingin cumbui jiwamu lebih dalam, sedalam lautan menggiring gelombang hingga menyeret ribuan segala yang mengapung di atasnya

syarifah, kaulah langit membuat batinku mendung
kaulah angin mambuat badai jiwaku
kaulah lautan membuat gelombang dadaku

Jakarta

Bila Malam

bila malam jelang dan merambat lewat kening cahaya wajahmu, rinduku bergemeretak ke dalam palungpalungku. namamu yang kusebutsebut sebagai ingatan membuat angin bergetar memuja badai. akankah kita melepas kembali kerinduan yang terpendam?
kau telah membuatku tak berdaya dengan pelukan hangatmu dulu hingga tulang-tulangku meruntuhkan segala

aku mencintaimu dengan dzikir lahut

—meminangmu dengan segelas air qolam dalam kerinduan yang panjang sampai bagian yang lain membedaki kekosongan hari—menghitung malam dalam dimensi ruang dan waktu. bersamamu aku akan sampai pada titik pemujaan para leluhur, lalu membikin sebuah kehidupan yang panjang

jangan sekalikali kau memberikan dalil yang lain dalam warna atau sikap yang teraniaya. jemarijemari ini tak lelahnya menghitung hari, menghitung abad perjalananmu. setiamu membuat mimpiku terus bernyanyi bersama daundaun dan rerumputan melambai

syarifah, akukau dalam dekapan biru

Jakarta

Kau Bebani Aku dengan Rindu

kau bebani aku dengan rindu;
—rindu yang tegak meliut
lalu kau datang dan menyebutnya sebagai batu

Jakarta

Haruskah Kau Mati

syarifah, haruskah kau mati karena semua yang tertulis. sungguh pemberian yang amat lembut jika kau memikirkannya sebuah kesucian, doa tertulus dari keimananmu mengejawantah dari sesuatu yang terdiam. rasa sakit yang kau rasakan itu bukanlah amarah, tapi dendam yang kau gadai sebelum kau menjerit kesakitan.

aduhai engkau yang menulis janjimu pada sehelai daun, namun tak kau temukan dirimu pada kesetiaan yang sempurna. bacalah aksara hidup, besok kau akan kembali—mengiringi matahari dengan lambaian senyum tentang kehidupan di masa depan. lalu kau teriakkan kehidupan di angkasa yang sama sekali kau tak membacanya dengan kerinduan. dirimu adalah dirimu sendiri.

syarifah, janganlah kau bersedih tentang sesuatu yang kau genggam. semua itu adalah bayangan yang tak abadi, hanya sebatas kehendakNya untuk kau terima adanya, hingga kau temukan doa qudus di sujudmu yang suci dan bukan pada ketiadaanmu dalam getar maut yang kau puja. bersabarlah demi ketulusan pengabdianmu pada sang Pencipta.

Yogyakarta