LABANG ARSIP

||Puisi-Puisi M. Faizi yang diposting di blog sareyang sepanjang tahun 2013: 1) Kularutkan Cemas, Kularutkan Harap, 2) Mein Name ist Nacht “Namaku Malam”, 3) Est Timor Arabica, 4) Berlayar Semalam.||





Kularutkan Cemas, Kularutkan Harap

Kularutkan cemas ini ke dalam hatimu, Nak
agar segera kutemukan warnanya,
hitam-putihnya,
atau warna di antaranya: kelabu

Anak-anak yang tadi berangkat ke sekolah
kulihat wajahnya mendadak tua
hanya setelah terdengar bunyi bel istirahat pertama
kerut di dahi dan urat-uratnya menegang
seperti layar menahan angin
seperti gairah menahan inign

Satu-dua guru masuk ke kelas
tidak, sebetulnya mereka tidak ada di dalam kelasmu
ada banyak bagian lain pada dirinya
yang tertinggal di rumah, tersangkut di pepohonan
sepanjang jalan menuju madrasah
menempel seperti label pada harga-harga

Di jalanan menuju sekolah
kulihat orang-orang pintar membuat onar
menyalip pada pandangan tak bebas
membuang klakson ke sembarang telinga
memakai motor tanpa pajak
membawa mobil hasil ‘bancak’
mungkin mereka betul belajar akhlak
dan menganggap ibadah hanya pergi ke mushalla
namun pikirannya menjalar kemana-mana


Darinya, lahirlah siswa teladan, sarjana cumlaude
alumni sukses, dan bekerja di kantor-kantor
menetapkan undang-undang, mengambil kebijakan
dengan pengetahuan, tapi tanpa keteladanan

Ah, masa?
ya, mereka yang tahu tanpa amalan
atau bodoh tapi mengambil keputusan

Maka, kularutkan harap ini ke dalam hatimu, Nak
dengan semangat guru dari masa lalu
mereka yang terlahir karena panggilan
bukan karena kepepet mencari pekerjaan

19/3/2013
Diposkan oleh M. Faizi pada 03 Mei 2013 di blog sareyang

Mein Name ist Nacht

Mein Name ist Nacht
ein Zeitfragment, das ten Tagesanbruch formt
Du bist die Morgendämmerung, rot vor die Sonne gebreitet

Tag, wonach suchen sie?
nur nach Licht
bis Verlorenes weidergefunden
bis Geheimnesse gelüftet

Wir sitzen Rücken an Rücken   
Gesichter gen Westen und Osten
dann sagen wir beide
>>Ich wünschte, wir könnten uns ansehen<<

Doch wo sind dann Grau und Schatten?

Nein, mein Name ist nur Nacht
Du kannst mich nicht anders nennen
Der eine kann den anderen nicht ansehen
So wie >wissen< und >nicht wissen<
Keinen gemeinsamen Platz finden

21.09.2007

Orientierungen 2/2011, S. 110
Übertragen von Lucia Seiβler und Martin Jankowski
Judul Asli: "Namaku Malam"

Namaku Malam

Namaku malam
kepingan waktu yang membentuk subuh
engkau fajar, merah ditempa matahari

Siang, apa yang mereka cari?
tak ada, selain cahaya
hingga yang hilang didapatkannya
hingga rahasia menjadi terbuka

Kita duduk beradu punggung
menghadap barat-timur
lalu, kita sama-sama berucap
“ingin rasanya kita bisa saling menghadap!”

Lalu, di manakah kelabu dan temaram?
tidak, namaku hanya malam
engkau tak bisa memanggilku di luar itu
yang satu tidak dapat menatap lainnya
sebagaimana ‘tahu’ dan ‘tidak tahu’
tak ada tempat untuk duduk bersama

21/09/2007 
Diposkan oleh M. Faizi pada 24 Mei 2013 di blog sareyang

Est Timor Arabica

Segelap laut Timor
di gunung-gunung yang disentuh langit
Ermera, aku melihatmu berselimut Arabica

Tumbuh serupa nasib
pahitmu menjalar tak dapat ditahan
manismu menjadi rahasia dalam seteru
dan rasa adalah kekayaan yang mesti dipertahankan;
rasa memiliki, rasa mencintai
seperti biji-biji kopi berjanji pada peminumnya

“Kita pernah tinggal di sebuah rumah besar
di belahan selatan garis khatulistiwa
berjauhan di atas peta
bertetangga di teras bahasa
dan sesekali semeja
kita minum kopi yang sama.”

7/2/2012
Diposkan oleh M. Faizi pada 11 Juli 2013 di blog sareyang

Berlayar Semalam

Naik bulan di atas langit, berayun-ayun dalam perahu dari kuku raksasa, berpindah dari rasi layang-layang di langit selatan ke polaris di belahan utara, dari entah ke antah-berantah ratusan tahun cahaya perjalanan berikutnya. Pelayaran dalam semalam untuk ribuan tahun penciptaan. Waktu adalah untaian kata, dan malam adalah bagian puitis di jumantara maknanya. Apakah nama dermaga tempat bersandar nanti? Dalam waktu ia bernama fajar; dalam hidup bernama mati; dalam diri bernama iman.

Arung langit raya dalam semalam itu tak terjadi di sana, di angkasa, melainkan di sini. Puncaknya ada pada salam di dua rakaat terakhir sebelum terbit matahari.

2/8/2013

Diposkan oleh M. Faiz 03 Agustus 2013 di blog sareyang