LABANG ARSIP

PUISI MARSUS BANJARBARAT || Setelah Hari Kematian - Riwayat Kepedihan - Detik Waktu – Malam Ke-7 || Puisi Koran Merapi, 22-2-1015.





Setelah Hari Kematian

jiwa dan ruhmu mendekam
pada dinding tembok keabadian

sebelum ia menyusup ke ruang sunyi
riwayat namamu akan terkenang
membentuk gumpalan tanah di permukaan
ada yang menyembah ampun
ada yang mencibir senyum

tulang-belulangmu melepuh
seperti daun kering berguguran
berakhir pada tubir nasib
yang tak selesai hingga akhir kematian

Yogyakarta, 2015


Riwayat Kepedihan

I/
ada beribu pintu mengatup
dari bibir doamu yang redup

di tanah yang memar ini
bau tubuhmu menyengat
bagai bangkai ikan terdampar
kalimat-kalimat telah mati
tak mampu menjamah tubuh
yang kian busuk oleh usia

ada yang datang dengan mata terpejam
mencerabut rumput-rumput kehidupan
di teluk nyawamu yang tergadai
pada dinding lautmu yang haus
memangsa waktu tanpa sisa

tak perlu kau bertanya
di kedalaman usiamu yang retak
langit di atas kepalamu akan runtuh
meratakan nasibmu yang kelabu

II/
khayalanku hilang diterjang kabut
duka waktu tak pernah memberi harap

pada ruang kosong
sekumpulan bayang menelan ingatan
ketiadaanmu menjelma riwayat kepedihan
aku berkhayal duka-duka bersarang
terdampar pada gelap kehidupan

aku terdampar dalam perahu nasibmu
mendaki sayap keresahan
merajut makna dukamu
palung derita terdampar gulita
menjarah jiwa kehancuran

Yogyakarta, 2015

Detik Waktu

menghitung jarak sejauh memandang
melempar jiwamu ke tepian

detik-detik waktu pada loncengmu
menggetarkan dahan jantung
melepuhkan jarum-jarum kian tajam
dadaku tertusuk oleh sejarah kematian

detik-detik waktu ke ujung jiwamu
memutar kisah meredam ingatan
pada luka kuncup nadimu
dering lonceng terdengar
menahan nafas yang hilang

Yogyakarta, 2015


Malam ke-7

datanglah malam ini
bawakan segenggam dupa

duduk
pejamkan mata

bila kau hirup bau asap itu
getarkanlah detak nadimu

merintihlah
masuklah ruhmu dalam asap
di malam ke-7

Yogyakarta, 2015