LABANG ARSIP

Puisi Marsus Banjarbarat || Kematian dan Sepasang Kunang-kunang || Penyairnusantaramadura, Jumat, 10 Februari 2012.





Kematian

ribuan musim
bertengger di tangkai bunga-bunga
dari garis bibir merekah
mengayun waktu berganti asa
matahari menggelinding
malam gugusan bintang melintas ruang pengap
habiskan garis-garis fajar bersinar redup
kemudian, kenanglah kematian bunga-bunga

kini entah sampai di mana seruak keminyan
mempesona bergilir sepoi angin
meluncur tajam
sayap-sayap dzikir kepastian
biarlah suara gumpalan airmata yang berat
sedenyut jantung kubisikkan nyanyian suci
kulepas airmata dari kematian bunga-bunga
dalam gelas akhir nasib dunianya

Yogyakarta 26 November 2009



Sepasang Kunang-kunang

sepasang kunang-kunang
bagai perak bening menghampar batas bumi
sebaris sajakku tersungkur
membaringkan buaian musim sejadah pagi

sepasang kunang-kunang
gemerlap antara tirai tafakur
mengisi celah ketawakkalan
nasib terkubur rapuh
meluncur bagai desiran angin
basah kuyup bagai kebahagiaan

sepasang kunang-kunang
telah kunikmati
sebuah permadani terhampar santun
sentuhan sujud di pagi bening

sepasang kunang-kunang
menggeliat di antara jendela bibir-bibir sunyi
seirama doa dari penderitaan kehidupan dan kematian
menetes seperti cahaya bulan
dikeharibaan Tuhan!

Yogyakarta 28 November 2009

Penyair ini, Lahir 20 September 1989 di Sumenep. Alumni SMA Al-In’am, Banjar Timur, Gapura Sumenep. Sekarang menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Puisinya telah dimuat di beberapa media massa lokal dan nasional. Sebagian puisinya terkumpul dalam buku antologi bersama Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010 (Dewan Kesenian Mojokerto, 2010).

Diposkan oleh Arsyad Indradi di penyairnusantaramadura.blogspot.com