LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Juwairiyah Mawardy di Antologi Puisi Surat Putih 2 –25 Perempuan Penyair, 2002



Satu Ranting Patah

Satu ranting patah
Lalu angin terasa kering
Air mata tersapu awan
Sendu

Satu ranting patah
Gerimis menjelam gigil
Sunyi
Sendandung jatuh
Di taman basahm merah

Satu ranting patah
hari-hari terasa kerontang

Madura, Desember 2000


Koran Hari Ini

Sebaris puisi luruh
Gugur sebelum terbaca
Seperti daun kering, ranting kering, puing-
puing
Lebur di debu
Perih di kalbu

Malang, Agustus 2001

Bagi Seraut  Wajah

Aku memahat wajahmu telah lama di sini
Kuwarnai dengan kesabaran waktu
Kau tak kunjung menjelma

Di laut aku temukan pecahan karang
Seruncing kisah hidup sepanjang usia
Di gunung aku jumpai serakan ranting
Serapuh kisah hidup sepanjng usia
Aku belum menemukan yang kucari

Aku memahat wajahmu tleah lama di sini
Lama sekali
Sejak aku belum mengerti warna
Tetapi waktu terus belum menentunku
memilih warna
Meski kau tak kunjung menjelma

Aku akan tetap memahat wajahmu di sini
Entah beberapa lama lagi
Keabadian mimpiku

Madura 17 juli 2001 

Juwairiyah Mawardy, tempat tanggal lahir Sumenep 25 Juni 1977 Pendidikan Akhir Fakultas  Tarbiyah Sekolah  Tinggi  Agama Islam Negeri  Malang. Pengalaman Puisinya dipublikasikan pada majalah Mimbar Pembangunan Agama (majalah milik Departemen Agama Jawa Timur), media lokal kampus, aktif di forum lingkar pena cabang Malang, aktif di sanggar nuansa dan dalam antologi bersama Nuansa Diam.

Catatan Si Tukang Arsip : puisi ini diketik ulang oleh Haryono Nur Kholis dari kumpulan puisi Surat Putih 2 25 Perempuan Penyair  (Jakarta: Risalah Badai, Mei 2002). Antologi puisi ini kami temukan dari seorang rekam  kami yang aktif di Teater Eska dan meminjamnya dari Perpustakaan Teater Eska UIN Suka Yogyakarta.