LABANG ARSIP

Puisi Faisal Ismail | Sementara Langit | Doa |



Sementara Langit

Sementara Langit mengombak menggoncang dada
senja gugur mega, gemetar usia tiba-tiba
kau bertanya : sudah jam berapa
kedengar keluhmu tersekat di rongga kata

Bunyi apa gerangan, tertahan-tahan dan asing dan jauh
mereka-reka bahagia, meraba-raba rahasia
ketika tanganmu menjamah, dingin dan kaku
kita pun terdiam dalam pandang yang beku

Kini haru sudah malam, berbadi susut dengan kelam
memencilkan ruan, menggumpal cahaya petang
yang redup dalam gempa tersekat hiba
sayup-sayup dalam doa, bisikmu terdengar ada


Doa

Kuhitamkan jiwaku yang putih
Kuputihkan jiwaku yang hitam
Tergusur kefanaan.
Jasad yang rongsokan
Kujotos-jotoskan kepiatuanku
Pada dendam
Kutinju-tinjukan keyatimanku
Pada kejam
Seluruhnya lumat jadi kepingan
Sekarang tinggallah kekalahan
Menyandang aib nasib hitamku
Cacat pada sisi sujudku
Kujadikan jadi milik Tuhan
Amin.
Faisal Ismail, lahir di Prembun, Sumenep, 15 Mei 1947. Lulus dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1973). Tahun 1988 lulus M.A dari Universitas Columbia, New York, dan tahun 1995 lulus Ph.D. dari Universitas Mc Gill, Kanada. Sejak 1975 ia mengajar di alamaternyaitu dan pernah menjabat Wakil Dekan I Fakultas Da’wah IAIN Sunan Kalijaga. Karya Nyanyian Musim (ap, 1980), Obsesi (kp, 1982), Tugu (ap, 1986, Ed. Linus Suryadi AG), Tonggak 3 (ap, 1987, Ed. Linus Suryadi AG), dan buku-buku agama dan kebudayan.

Catatan si Tukang Arsip : Puisi berjudul Sementara Langit  diketik ulang dari buku induk mata pelajaran Bahasa dan Sastra  Indonesia SMA 1 (Yogyakarta: Grasindo, thn?) hlm. 86, Puisi “Doa” diambil dari : ladangsastrasmkn10mlg.blogspot.com, dan dipublikasikan ulang pada tanggal 7 Februari 2014 oleh lembarsastra.wordpress.com. Biografi Penyair diketik ulang dari Korie Layun Rampan,Leksikon Susastra Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, thn?), hlm. 153. Puisi Faisal Ismail dalam  Abdul Rozak Zaidan, Mitologi Jawa dalam puisi Indonesia modern, 1950-1970 (Departemen P dan K Yogyakarta, 1970): Bayang Rindu, hlm. 138 | Firasat Malam, hlm. 151 | Angin Kecil, hlm. 151 | Ifa, Sajak-Sajakku, Selamat Malam, hlm. 164