LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Bernando J. Sujibto di Antologi Prosenium Eska, 2013

sumber: Withered-By-The-Greed2-2005-Oil-on-Canvas-100x120-cm



Malam Pada Sebuah Kafe

/1/
            --toman café bersama byan

ini malam untuk pelarian tanpa nama, selain kesepianku
yang telah mencatatnya
pada selembar bulan sabit yang tertusuk daun. Engkau terus
meminta cahaya
pada guguran debu-debu merapi yang telah mengabukan
kotaku, kota yang dulu
kau singgahi untuk kesepian yang sama, untuk pelarian
yang sama, jangan selalu
menuntut apa pun dari kota yang telah lama kau tinggalkan
namanya. Juga cintanya


jika engkau datang malam ini, malam setelah warna kelabu
mengguyur kotaku
akan paham makna kesepian ini, tentang masa lalu yang
jauh, dan menggobang
semua yang telah dilahirkan, menjadi serpihan-serpihan sepi
yang menggiris
lalu berterbangan ke setiap daun dan hingga pun ke helai
demi helai rambutmu

lalu kau mudah berucap:
“semestinya kau tak di sini!”
lalu kau cabut dihantar kereta
ke Tugu atau Lempuyangan
dan kota ini semakin malam

ini kota sekian kubik cinta, dan juga puisi-puisi,
dari rahim murung
mengintai setiap dengih rajuk yang lenyap di pelataran
senja, terbawa kereta
ke ujung yang sepi, tapi selalu meronta
seperti ada yang hilang
lalu dibiarkan pergi

dan kota ini, selalu
marejuk luka


/2/
            --perangai sungai

di kota ini,

aku tiba-tiba takut pada hujan
bukan pada dingin yang diperah
atau haus tanah yang terjarah
tapi sungai yang membesarkanku
dan mereka dari tengah bukit itu
mengenang api yang baranya
terendap di dada-dada mereka
juga pada lembar dedaunan
yang hanyut ke atas bantalmu
sapalah ia, sebnelum engau ninabobo
menjadi kisah tentang sebuah kota
yang sangat mencintai sungai
dengan alirannya yang berderai

aku tahu sungai selalu akan menelan
apa saja, atau bahkan alidannya sendiri
tapi kota ini, selalu akan sabar mununggu
dan menjemputnya kembali menjadi tugu

siapkan perahumu
lalu datanglah ke kotaku
cinta dan murung
akan mengisahkanmu
semua tentang makna

Yogyakarta, Desember 2010

Setelah Dari Rumah Atas Bukit
:Kepada Raudal Tanjung Banua

jika ke pasir selatan, terbayanglah ombak
menjahit langit dengan tungkai bukit taratak
ada kuda yang berkelebat di balik saga senja
“tabik bagi orang-orang rantau!” kata mereka

dari atas bukit itu, si kota, mengurai kisah
jarak pandang antara laut dan beranda rumah
tengarai pelangi, bersambut warna-warna sisik
ikan di langit, sketsa kapal-kapal perantauan
yang tak pernah bisa ditambatkan

laut, di sini, lebih setia menyimpannya
sebagai rahasia yang tak tersebut namanya
di ujung april sebelum ke payakumbuh
kelahiran itu kutemukan seperti selendang subuh
mengakrabi daun yang uratnya kini menjadi pohon
dan di tengah pagi ia akan pecah menjadi awan
terbanglah ke semua sudut langit, yang begitu dekat
danri atas bukit bekas rumah rehat kisah kasih

dan, jalan ke bukit itu setiap hari berubah’
sukma tertusuk duri hingga kerkali-kali
seperti tak sanggup melayar kemabli

setelah dari rumah atas bukit itu
jarak bukit dan laut begitu dekat

jika orang memanggul rotan, ia
pasti baru saja berlayar di laut
jika mereka membakar ikan, ia
pasti baru saja berburu di bukit

(Padang, April 2008)

Menemani Keberangkatanmu
(untuk almarhum k.h.a. hamidi hasan)

/i/
tibatiba aku ingin sekali dating ke stasiun
tanpa karcis di tangan. tidak hendak kemana
selain menunggu kereka demi kereta melintas
dan menemukanmu mendaras rel yang sama
o, ini pagi aku menyaksikan keberangkatanmu
jadwal yang kau sebut begitu cepat
tak dapat kujabat tanganmu erat
lengking peluit keburu mengkilat

//ii//
pagi dinihari pukul 2.30
laman kusam stasiun tua
temaram lampu perlahan tertahan
menyulam kemparan masa silam
sebiji arang pada secangkir kopi
menemani keberangkatanmu
dari stasiun yang lain
selamat jalan guru…
aku dari kota tugu
segera menyambut
sebuah kereta
kau namai
sendiri
arang hitam mulai tenggelam
merenangi kantukku yang hilang
music jalanan dan parfum malam
di sini kami bertiga (aku, sabri, ruslan)
dari ruas masa silam yang sama
meniti pematang di belakangmu

///iii///
riuh rendah kereta malam
dating dan tenggelam
cangkirku tibatiba hitam!

Stasiun tugu, Jogja, 26 Mei 2012

Malam & Kesepian
rindu jauh kekasih

1/
akan kukemas senja
jika malam disangsikan
hingga kau benar paham
bulan lengkung tanggung
dalam sakuku
memagari senyum
riak kecil yang ranum
dan wajahmu menjauh
mengarsir garis-garis subtil
di balik cahaya bulan yang dingin
aku menggigil mengiris sepasang alis
yang perlahan pudar tersepuh senja

2/
rindu tak perlu disangsikan, byan
saat malam adalah sepotong pizza
di piring makan malamku yang putih
sebiji sendok menyapih suara riuh
membiarkan denting mellow dari entah
pada meja yang melengkung tanggung
seperti bayang bulan di langit malam ini
aku menikmati makan malam setulus senja
yang sebentar lagi akan lenyap tergesa
dimamah malam dengan sepotong bulan
melengkung tanggung di alismu

3/
senja itu akan kusublim, byan
menjadi cincin lentik bermata akik
dari secarik garis-garis senyuman
berpendar menggantikan malam
di jemarimu!

Cliff Apart, Columbia, 2010

Sore Sebelum Blues Concert
-Finlay Park

sore hari sebelum blues concert itu memanggilku dari jauh finlay park
kupastikan berapa gerimis yang sudah berlaru sore ini. biar aku semakin
yakin bahwa cuaca telah menamakan semuanya. aku tetap yakin kepada
musim meski kini telah didustai. musim panas yang kau ceritakan—daun
daun yang melepuh atau bunga-bunga yang enggan tumbuh—kutemui
di sini, meski tidak semuanya benar, di balik riuh sabtu sore yang lengang
dalam bola mataku pada hamparan taman luas yang ujungnya mengalir air.

mungkin sebentar lagi, taman itu akan meremang di balik dada mereka
yang telanjang, dan matahari akan tenggelam ke tengah celana dalam
hingga malam benar-benar dimulai dari bali tubuh mereka, dari denguh
nafas yang tak utuh atau dari nyanyian blues yang datang dan tenggelam

aku di sini ingin mendengarkan birama lain: dari tubuh mereka senidri!

South Carolina, June 2010

Catatan si Tukang Arsip: Puisi-puisi ini ditulis ulang dari Antologi Puisi Prosenium (Divisi Sastra Teater ESKA & Kendi Aksara: 2013)