LABANG ARSIP

Sajak-sajak Sofyan RH. Zaid - Indopos, Sabtu 23/11/13




BEGUNDAL

aku sudah berpaling # tak akan menoleh walau ke samping
jalan lurus # menanjak terus
sampai dimana tempat # ikan mati dari hatiku melompat

di sana aku samadi # menghukum diri
merajammu dalam harap # melemparmu dari ratap

aku hanya seorang begundal # kau misal dari segala asal
kau tak akan sabar bersamamaku # seperti sabarnya batu

aku sudah berpaling # kau tak perlu menjadi hening

Bekasi, 2013


CASANOVA

kenanglah aku sebagai lelaki # separuh ruhku matahari
separuhnya lagi engkau # berdiri di ujung kemarau
kelak kau akan tahu # betapa lelakinya aku

aku pun akan mengenangmu # sebagai perempuan tangguh
harta rampasan perangku # melawan takdir yang pilu
setelah itu # kita akan saling menunduk malu
menempuh jalan sunyi # seraya bernyanyi
sampai hati menjadi bulat # serupa telur menetaskan burung ulat
sayapnya mengepak # terbang menjilat langit sajak

Bekasi, 2013

GAHARU

aroma gaharu # mengingatkan aku pada ibu
menjelang malam # hari tenggelam dalam kelam

ibu yang dimana # aku yang disana
dalam aroma gaharu itu # aku menjumpaimu dengan rindu

Bekasi, 2013

MATA HARAP

barangkali aku terlalu dalam jatuh cinta # sampai tak sanggup berkata
bahkan untuk sekedar menatap # aku mesti pejamkan mata harap

mata kaki # mata hati
mata hari # mata mati
beri aku keberanian # dalam ketakutan
berkata sepenggal saja # dari kejujuran rasa

mata kaki # mata hati
mata hari # mata mati
matamu terlampau pisau # menikamku galau

Bekasi, 2013


ZIARAH

dari kubur ke kubur # keakuanku hancur
bunga-bunga kenanga gugur # airmata deras melebur

aku ini siapa? # kau siapa?
siapa tanah # siapa sukma?

aku dihempaskan # lambai daun ke nisan
usiaku luka # darah tumpah
rintih menulis dosa # di kubur basah
baris demi baris # ingatanku giris
ruhku remuk berantakan # dimana-mana berserakan
ada yang tak terungkap # sebab tak sanggup mengucap

dari kubur ke kubur # badanku tanah kapur

madura, 2013

KOTA SERIBU PENYAIR # II

ke kotamu aku kembali datang # seperti bayang-bayang
kota seribu penyair # tiap sudutnya penuh syair
kotamu masih sama seperti dulu # desir angin mengabarkan rindu
hanya yang berbeda # engkau sudah tiada

aku mengunjungi alun-alun # suaramu masih mengalun
di ujung menara # bintang itu masih cahaya
kopi yang kuteguk # mengantarku pada khusuk
tahun yang lewat di pinggir # menawarkan air
aku berjalan sendiri # di antara sepi menari
memberi salam pada taman # pada lengang jalanan
padamu rinduku tumbuh # seperti pepohon tepian itu

barangkali karena tiadamu # kota ini mulai terasa semu
aku pun bergegas # melanjutkan langkah ke tapal batas

Jogjakarta, 2013

SERIBU BULAN RINDU

sepulangku dari pergi # kau terjaga dari hari
tatapanmu seperti tahu # isyarat rinduku
aku sudah berbadan kenangan # kau adalah bagian

rindu menyalakan seribu bulan # aku menggapai terang berkilaun
jari jemari mengucur cahaya # begitu juga kulit dan mata
rindu pada kekasih # rindu yang diberkahi

kembalilah kau tidur # aku masih menggali kubur
untukmu dan untukku # juga bagi wahyu
di luar angin mendesir # di dalam air mengalir

besok pagi-pagi # kita lihat matahari
terbit dari mana # dan tenggelam ke mana

Madura, 2013


KEBEBASAN ABADI

terkadang kita ke hutan # mencari kebebasan
kebebasan pandangan # kebebasan pikiran
betapa mahalnya kebebasan # orang menebusnya dengan kematian
ada yang pergi ke gua # bertapa puluhan tahun lamanya
mengembara ke mana-mana # tanpa apa-apa
tetapi masih bertanya # kebebasan itu dimana?

aku pun pernah mencari kebebasan pada dirimu #  namun yang kutemu hanya semu
barangkali hanya surga puncak tertinggi # kebebasan yang abadi

Madura, 2013