LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Kamil Dayasawa - Riau Pos, 30 Maret 2014





Kota Kenang-kenangan

/1. Sampang 

kau datang padaku membawa kekhusyukan kampung:
daun-daun gugur dari kepalamu,
para petani membajak sawah di pagi basah
tampak riang menari padi di kedalaman matamu

kau meminangku dengan basmalah bisu di ujung bibir
saat asin tubuh belum kubasuh 
karena angin tambak berhembus membawa aroma garam 

kau tahu aku tak pernah kesepian,
setiap waktu deru mesin di jalanan bersenandung
menyanyikan lagu-lagu kenangan yang teramat menyedihkan

lampu-lampu merkuri mengedipkan matanya pada kendaraan
sedikit bunyi klakson atau sekadar teriakan kernet bis 
cukuplah melambangkan dunia dalam batinku

sementara kau membawa harum ladang-ladang kering 
tempat burung-burung kawin dengan angin,
pertunjukan yang tercipta atas nama langit

malam sakit tak bisa menghafal desah nafas kita:
kau menjelma bayangan yang boleh menyusup ke dalam bajuku tanpa dosa
aku menjelma bidadari suci yang tak bisa menyimpan hasrat rahasia


/2. Surabaya

Lidah Wetan tempat kita bermain kucing-kucingan dengan seekor anjing 
sembunyi di semak-semak dekat lapangan tenis
sepi menjalar lewat ranting-ranting pohon rindang
dan jatuh di hadapan kita, menjelma segumpal asap kelabu

kita berpandangan seperti sepasang kekasih dalam novel fiksi
tersenyum layaknya sebuah lukisan alam, hijau kemilau
dengan rumput-rumput setinggi mata kaki ditempa sinar matahari

seekor kodok dalam tempurung merasa aman dari amukan cuaca
dalam dekapanmu aku pun tak mengenal dunia di luar sana
gerimis rintik-rintik jatuh seperti petikan gitar tua
kesibukan kota kala meramal nasibnya, tiba-tiba menjelma kesunyian
seperti kelokan jalan-jalan sepi; hanya orang-orang berlari
menyeret kegelisahan yang bersarang dalam batinnya

“kelak di persimpangan itu kita berpisah,” katamu.

aku percaya akan datang waktu kepergian mencengangkan
mungkin karena ada seribu rencana belum dilaksanakan
atau hanya karena aku telah percaya pada takdir 
meski takdir seringkali menolak jatuh cinta pada harapan-harapanku

“di manakah ujung sebuah jalan?”

“o, ia tak punya pemberhentian terakhir
ia tak dilahirkan dari sebuah peristiwa”

lalu aku merasa lebih tua dari hitungan angka kalender
kupejamkan mataku, serasa ingin jadi bunga tidur 
yang tumbuh di antara akar-akar menjalar
hingga usia lupa menentukan hari 
kapan aku harus menggugurkan daun-daunku

/3. Pare

aku membaca slogan pada pada baju kaus  
“kota kecil penuh kenangan”

mungkin gunung Kelud atau Simpang Lima Gumul
yang kerap memanggil para pendatang untuk ziarah kembali
ke tanah basah tempat orang-orang belajar menjadi orang asing 

sebuah ritual klise tampak pada wajah-wajah lama mereka
kenalan baru, kampung halaman baru
tak menyuguhkan cerita lain selain keakraban pada kesederhanaan
roda-roda sepeda yang berputar memasuki gang-gang

tapi aku punya tokoh lain di sini, yang sanggup memberi salam
dengan denting suara lebih indah dari piano
sayup-sayup menyusup ke dalam telingaku dan membangunkan
seluruh bulu kudukku—kaulah itu,
mata yang menyimpan ketenangan air sungai
bibir yang mengulum ketabahan lumpur hitam

tak ada yang sakral namun tampak lebih binal
untuk mengutuk rindu menjadi hantu mimpi bunga tidur
bunga yang tak ingin daun-daunnya gugur
dan tak mau melepas dekapannya pada musim hujan
musim yang akrab dengan petani padi perkampungan
di mana kini, dalam dirimu tampak tergambar
menyiratkan kesopanan cangkul 

hari terakhir sebelum kepulangan
telah kukenakan baju kaus bertuliskan:
kota kecil penuh kenangan
agar aku tak merasa menjadi orang asing bagi kesunyianku
yang dalam sekaligus menakutkan

/4. Yogyakarta 

di kota ini aku tiba sebagai pengunjung 
kesetiaan
alun-alun kidul mengabadikan jejakku
Malioboro tua menghafal harum keringatku

kulipat jarak membentang bernama rantau
demi jarum jam yang mampu membahasakan waktu

sebagaimana Merapi, aku senantiasa ingin meletupkan
api tubuhku. atau seperti laut selatan yang ombaknya
tak henti bergulung-gulung, aku ingin bermain-main
memukul karang yang menganga di tubuhmu

tapi persimpangan yang kubayangkan di masa silam
telah tiba di hadapan kita, dan kita tak bisa memilih jalan kembali
sebab kita tak bisa mencintai matahari kemarin
dan dilarang jatuh cinta pada hari kelahiran

“aku kini menjelma kota kenang-kenangan
yang tak tahu, kepada siapa akan dihadiahkan”

(Jogokariyan, 2013)



Balada Kampung Halaman

/1. anak-anak

tak boleh menggertak bumi dengan kaki
kita telah berjanji pada matahari
menjadi anak-anak patuh pada taji leluhur

tundukkan kepala seperti burung-burung
membaca mantra musim hujan, angin diam
mendesaukan amin bernada sumbang

biarlah para musafir datang membisikkan
kabar ujung dunia, samudra jauh 
kapal-kapal ditambatkan menanti penumpang
kita tak punya restu agung jadi pengembara
kita telah terkurung sejak kelahiran tiba

senyap mata kita menyimpan ruang kosong
lebih tenang dari surau-surau tua tanpa jendela
hingga kita tak tahu cara menangis tersedu
meski tiba-tiba seribu anak panah menyerbu

sebab kita dilahirkan dari rahim belantara
dekat sungai dan sawah kuning padi
lalu merangkak mengikuti alunan melodi 
ditiupkan muadzin di penghujung hari

layang-layang menari di langit tinggi
bersiul merayu bintang-bintang 
sesekali terbang lebih tinggi 
menyusup dalam dekapan awan

“gantungkan mimpimu setinggi atap
kalau jatuh tak akan sampai pada kematian.”

lalu kita merancang peta perjalanan
dari sawah ke ladang
dari akar ke sumur terdalam

/2. bindring

“kita membaca zaman, hidup itu perburuan
tembakkan anak panahmu pada binatang
kalau tak kena, biar kita tembak para pemburu”

apa yang kita lihat pada wajah sendiri
selain kerutan yang menandai senyum takdir
tak henti menyingkirkan kita dari cerita cinta
dengan segala romantika rindu mengguntur
melecut sampai ke dalam tidur kita paling sunyi

kita mengukur panjang jarak jalan berliku
desa-desa yang penduduknya penuh kemurungan
lalu mencatat banyak kenakalan tak sampai hati
untuk dihentikan, karena kita tak merasa bosan

istighfar kita adalah lagu sepi yang dinyanyikan persimpangan
saat memutuskan satu arah yang mengantar kita
jauh ke pedalaman kampung tanpa kerlipan bola lampu

dosa mengajari kita menjadi roda sepeda
patuh dan setia menapak di mana saja

bunga-bunga mekar di ladang, 
senyap mata kita memandang
membayangkan istri di atas ranjang, 
harum tubuhnya aroma kembang

kita harus terus berjalan dan berhenti mengenang
agar doa hujan yang kita bisikkan dikabulkan Tuhan
lalu kita bisa menjelma dahan menjuntaikan buah-buahan

o, dengarlah seorang bayi memekikkan tangisnya yang pertama
suaranya menyayat luka jantung kita—berdarah!
kita selalu tenggelam dalam tatapan kosong mata anak-anak kita
yang tabah mengaji nasibnya dalam untaian kasidah sederhana
kitab-kitab kuning. sampai tiba suatu hari 
gumpalan kabut muncul dari garis-garis telapak tangannya
dan mereka tahu, kelahiran bukanlah suatu keberuntungan
yang akan mengekalkan namanya pada batang-batang pohon kelapa

lalu air mata kita menetes. khayalan muncul dari semak-semak
menyergap kita seperti seekor elang memangsa seekor ular
kita menggeliat mengerahkan segala kelicikan 
tapi dalam cengkeraman elang hitam, seekor ular hanya bisa mendesis
mengabarkan kesakitan-kesakitan tak terucapkan

/3. perempuan

kita penghuni dunia paling menakjubkan
dengan mata teduh rindang pepohonan 
tutur kata kita berkisar antara ranjang dan ruang belakang
hangat tubuh kita umpama abu tungku
sekali dipeluk, tulang-tulang lelaki
akan terbakar seperti tumpukan kayu 
yang setiap pagi dilumat kembang neraka dapur tua

“maka menyanyilah, kita bisa tabah karena tidak sekolah”

menjelang siang kita kumpul di warung rujak;
mangga muda, mentimun dan cabe merah 
jadi santapan pertama sebelum kita bertukar cerita
tentang usia muda tak bahagia karena kawin paksa
—oh, tidak. kita memang tak pernah jatuh cinta
kita tak diajarkan memilih calon laki
karena sejak detik pertama jatuh dari selangkangan ibu
nama kita tercatat dalam akta kehidupan
sebagai calon pengantin yang akan menikah tanggal sekian

sepasang bunga matahari tumbuh di dada kita
jadi senjata utama paling mematikan
panjang rambut kita menjuntai beraroma khas pedesaan

karena itu kita menjadi penghuni dunia paling menakjubkan
di antara kembang-kembang tumbuh liar di halaman
di antara kegugupan menyebut nama bulan dan bintang

sebab kata-kata kita selalu diredam 
dalam ruang kosong yang menakutkan

(Jogokariyan, 2013)


Kamil Dayasawa
lahir di Batang-Batang, Sumenep-Madura, 05 Juni 1991. Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep-Madura. Puisi-puisinya dipublikasikan di sejumlah media cetak dan termaktub dalam berbagai bunga rampai: Akar Jejak (2010), Estafet (2010), Memburu Matahari (2011) dan Sauk Seloko (2012). Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam FAIB-UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.