LABANG ARSIP

Sajak Dua Belas dan Sajak Tiga Belas - Karya Amin Bashiri



Sumber: Aelita Andre


Sajak Dua Belas

bersama gugur hari-hari perlahan terlepas dari kalender sungai itu
sempat kutabahkan penantian lewat dua buah pohon pinang tegak menantang matahari
pada angin pembawa kabar dari mulut sengaja mencuri kesangsian matahari di balik awan hijau jubahmu
peleraian sengketa ular-ular tak kunjung selesai
seperti membaca keruh terus menerus mengalir bersama arus peluhku, kau tetap tak datang bahkan dalam mimpi burung-burung
aku tahu, mungkin kau membunuh siang dengan belati dingin di tanganmu
sebab selalu saja hari ini dingin mengitari melepas ikan-ikan berloncatan mendengarkan percakapanku dengan bunga-bunga
semerbaknya mulai terbaca

kemudian satu persatu kutanggalkan nafas dekat sungai berbatu embun
menjelma karang runcing, cadas mencabik-cabik waktu
dan adzan gema dari jerami nun melengkung seperti bulan sabit alismu
tiba-tiba hari kau datangkan malam tanpa sepatah kata yang sempat membuatku terkejut menyisakan degup terkatup dalam bibir
lumut-lumut tertawa
sejumlah pahatan liang kubur kau pesan atas namaku
namun derai ngilu jantung terus berpacu mencari kau bersembunyi
dimana akhir bintang menuntaskan cahayanya?
dzikir-dzikir
malam
bahkan tahajjudku telah kau setubuhi dengan ayat-ayat
masih saja kau diam bersama gelap di tangan penjala
seekor laba-laba tua hampir menyelesaikan sulamannya jelaga di sudut tubuhku
menuggu kau dan keranda tuamu
sejak kain kafan terbentang lurus mengitari mimpi-mimpi
dan permainan kita belum selesai seperti waktu Ibrahim mencari tuhannya
akhirnya sebuah ritmis perjalan termulai perlahan di ranjang pergumula sebelum hujan diam-diam membaca jejakmu
kita selesai sampai disini…

Soklancar, 08 April 2008

Sajak Tiga Belas

sebenarnya waktu yang terpasung dekat muara itu telah kuhanyutkan bersama kerinduanku karena matahari
dari bola matamu kutakdirkan segenap pasrah yang melingkar dalam doaku
sebab tak mampu kuterjemahkan ujung rambutmu malaikat-malaikat turun berselancar pekat yang hendak menudingku
jantung tak lagi mendetak-detak,
irama dari mulutmu itu adalah waktu yang kau suguhkan padaku menjelang perjamuan kita di ranjang pertama
sepertinya kebisuan bunga-bunga adalah segelas kopi pagi ini
aku lihat sejarah berlarian di kejar waktu sambil menyingkap ujung belati
apa kau hendak membunuhnya?
para daun dan tasbih embun di tangan mereka telah mencair tak hiraukan percakapan matahari semakin terik mendiami langit
adalah sunyi yang terus menjadi pertanyaan, mengapa harus kepompong yang menetaskan kupu-kupu
takdir menyisir sekitar darahmu hingga kau lupa
batu-batu itu adalah tempatmu duduk sebelum pergi tinggalkan perih duri menusuk senja

Soklancar, 12 April 2008