LABANG ARSIP

Sajak Ala Roa - Dunia Absurd*, 16 November 2008





MATAKU

mataku menemukan mata cintanya
menemukan cinta pada matamu
mata cinta yang menatapku

kuingin mengambilnya
mengambil sebongkah batu
sebongkah gerak yang beku
beku membatu dikedalaman matamu

kuingin mengambilnya
untuk mata hatiku
hati yang menunjuk matamu
menunjuk sebagai kisah
kisah yang tak berdetak pada jam

jika aku tak bisa mengambilnya
mataku tak akan menangis
air mataku tak akan pernah menetes
ia akan mengalir menemukan kesunyiannya
menemukan matanya
menemukan mata dunia

yogyakarta, 2008

Dunia Absurd*, 22 Juli 2009
ALA ROA 1
Sajak-sajak Ala Roa Sabtu, 20 Desember 2008

DI KEDALAMAN MALAM

malam ini sangat malam
malam jauh dalam kedalaman
aku memainkan lagu di kejauhan
memainkan lagu aku jauh di sini
aku menyanyi di kejauhan
menyanyi aku jauh di sini
tetapi aku tak memainkan lagu
aku tak menyanyi di sini
di kedalaman malam yang jauh ini

Yogyakarta, 2008

NAMAMU PANGGILLAH!

kau yang punya nama
setiap nama akan memanggilnya
memanggil nama nama itu
nama setiap nafas pelupuk mata
nama mata di ujung tatapanmu
mata nama di rekah bibirmu
ada yang bernyala di balik namamu
ada yang berkobar di depan namamu
nyala kobar nama dalam terkapar
di sini panggillah nama yang hampir retak
panggilan nama kebisuan
di sana panggillah nama yang hampir karam
panggilan nama kesunyian
kau masih hidup di bawah namamu
nama nama berdebu
nama nama berdarah
berserakan mengais luka nama nama
panggilan di dasar nama
namamu panggillah!
nama nama terbungkam namamu
terbungkam nama nama kecintaan
nama nama menyebutmu
nama nama terlupakan
panggilan di jantung nama
namamu panggillah!
nama nama itu adalah namamu
nama nama itu tak mampu menatap namanya
nama nama itu tak mampu menyebut namanya
nama nama itu tak mampu memanggil namanya
di dasar nama nama
di jantung nama nama di dasar jantung sebuah aksara
nama nama itu tak merindukan namanya
nama nama itu tak mencintai namanya
nama nama itu rindu dan cinta nama air mata
namamu panggillah!
sebab
kemana pun kau pergi namamu akan mengikuti
mengikuti nama nama lain di mata yang lain
mengikuti nama nama lain di mulut yang lain
di mata yang sama
di mulut yang sama
menatap nama matanya yang bersinar
menyebut nama mulutnya yang bersinar
memanggil nama nama hening yang nestapa

Yogyakarta, 2008

AKU TAK INGIN MENGUCAPKAN SELAMAT TINGGAL

untuk orang-orang yang pergi
aku tak ingin mengucapkan
selamat tinggal untuk setiap kepergian
aku tak ingin mengucapkan kepergian
padamu yang pergi selamat datang kehadiran
selamat datang untuk kepergian yang hadir
di sini kepergian mengucapku
mengucap dirimu yang pergi
hadir untuk diriku yang sendiri
di sana mungkin kepergian mengucapmu
mengucap diriku yang pergi
hadir untuk dirimu yang tak sendiri
ini bukan kepergianmu
ini bukan kehadiranku
ini bukan kepergianku
ini bukan kehadiranmu
di antara pensil yang patah dan buku yang terbuka
kau yang pergi adalah cinta
aku melintas jauh ke dalam tubuhmu
tubuh yang jauh sedekat tubuhku
aku pergi jauh dari duniamu
dunia yang jauh sedekat duniaku
pada botol-botol anggur dan kursi yang kosong
aku yang pergi adalah cinta
kau melintas jauh ke dalam tubuhku
tubuh yang jauh tak sedekat tubuhmu
kau pergi jauh dari duniaku
dunia yang jauh tak sedekat duniamu
tak ada tangisan dalam kepergianmu
tak ada tangisan dalam kepergianku
kehadiran air mata yang silih berganti
adalah takdirnya yang abadi
ucapanku dan kepergianmu
bukan kesedihan
ucapanmu dan kepergianku
bukan ketakutan kita sama-sama tak memilikinya
selain cinta
ini bukan kepergianmu
ini bukan kehadiranku
ini bukan kepergianku
ini bukan kehadiranmu
aku tak ingin mengucapkannya

Yogyakarta, 2008

Dunia Absurd*, 22 Juli 2009
ALA ROA 2

PHANTASMAGORIA

dalam sisa gerakku yang kutinggalkan
adalah wajahmu
sisa getar dalam getar dalam sendiri
dalam getar wajah terik hangat
dalam getar wajah kaki melesat
kuingat melekat pada jalanku

suatu waktu kusentuh
ia dengan tanganku
wajah yang tak ada di cermin kaca
wajah yang hanya milikku
wajah yang memilikiku
wajah yang juga memilikimu

lalu aku membelainya
serupa hangat yang melesat pada wajahmu
membelai wajahku yang hangat melesat itu
wajah yang kubelai dalam belaianmu

menjadi wajah batu batu beku
menjadi wajah lubang lubang waktu
beku waktu yang bertiup
tiupan wajah setengah tak nyata
wajah wajah yang sungguh ada

dari segala batu penjuru batu
segala penjuru sepi
dari segala lubang penjuru lubang
segala pejuru mengambang
aku dan wajahku melebihi mimpi
wajahmu tak cukup arti

hingga di sela sela lupa
aku masih membelainya juga
belaian wajah terik hangat
belaian wajah kaki melesat
bergetar dalam getar dalam
diam diam melayang
bayang yang diam
pada tanganku yang kaku

mungkin ia bukan patung
mungkin ia bukan waktu
walau kutahu tersentuh utuh
sentuhan ingatan
sentuhan keutuhan

namun semuanya
bukan ingatan
bukan keutuhan
hanya wajah yang tak bisa kusempurnakan

yogyakarta, 2009

MIMPI MIMPI
:albert camus

di sini mimpi mimpi indah memelukku
memeluk mimpi mimpi indahku
memeluk indah mimpiku di sini
pada diriku ini

di sini mimpi mimpi asing memelukku
memeluk mimpi mimpi asingku
memeluk asing mimpiku di sini
pada diriku ini

di sini pelukan lubuk hening
lubuk bahasa tanpa kata
lubuk bayang tanpa tubuh
lubuk bahasa bahasa bayang
lubuk kata kata tubuh
hening lubuk kupeluk di sini

sungguh indah di sini mimpi mimpi indah
indah sekali mimpi mimpiku
sungguh asing di sini mimpi mimpi asing
asing sekali mimpi mimpiku

sepertimu
di sini tak bisa kujelaskan indah mimpiku
mimpi yang jelas indah di sini
di sini tak bisa kujelaskan asing mimpiku
mimpi yang jelas asing di sini

aku melihat diriku di sini
melintasi lautan dan daratan
lautan detak yang mengombak
daratan jerit yang terbang
berlayar mengembara
melintas tak berbatas
sebatas diriku ini

mimpi mimpi adalah kehidupan dan kematian
wujud wujud yang akrab hidup
wujud wujud yang pergi mati
wujud yang berganti ganti wujud
mencari wujud di luar dan dalam hati

di sini kita sama sama bermimpi
mimpi mimpimu menemuiku
mimpi mimpiku menemuimu
menemui keindahan yang asing
menemui keasingan yang indah
menemui kita sendiri
menemukan wujud pelukan yang lain

di sini mimpi mimpi
wujud wujudnya menjulur
juluran wujud yang terdalam
kedalaman wujud diri
berdiri menantang
hingga keberanian dan ketakutan
hingga satu menyatu satu
hingga mimpi mimpi bukanlah kau atau aku

di sini kita sendiri
mimpi mimpi sendiri
menjulur berdetak menjerit
menjulur mengombak terbang

kubiarkan semua terjadi
biar mimpi mimpi indah
biar mimpi mimpi asing
tak ada maut di sini

yogyakarta, 2009

SELEMBAR KERTAS DAN
ANGIN SETENGAH PAGI


selembar kertas
selembar kampung halaman
selembar kenangan di kota ini

angin setengah pagi
aku mencarinya
mencari huruf huruf terlantar
mencari daun daun berjatuhan
mencari rindu yang terselip di badan

selembar kertas dan
angin setengah pagi
selembar puisi angin
selembar grafiti dalam arloji
menemaniku di sini

yogyakarta, 2008


*Dunia Absurd merupakan blog pribadi penyair Ala Roa yang dikelola sepangjang tahun 2008-2012. Dunia Absurd memiliki pesan: “Dalam kehidupan, kematian yang tak sempurna adalah karya besar yang jarang orang menemukannya. Sebuah keheningan yang terdalam dari hati seorang manusia.”  Sedangkan Ala Roa ialah penyair Eksistensialis yang pernah saya kenal, dan sempat saya jadikan guru. Ia menyebut dirinya dengan : “Aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Aku bukan penyair atau sastrawan. Aku adalah manusia biasa seperti juga yang lain. Aku hanya ingin mengungkapkan segala yang terjadi pada diri atau pada yang lain. Aku merasa hidup dan mati tak akan pernah bertemu. Namun suatu saat kita pasti akan kembali dan kembali. Di mana kita tak akan pernah bercerita dengan mulut sendiri sebab kita adalah matahari yang dibahasakan bunga-bunga.”
Mengenai tulisan ini, kesemuanya diambil dari: http://alaroa.blogspot.com