LABANG ARSIP

Sajak Ala Roa - Dunia Absurd*, 29 Agustus 2009


Sumber: Mexican Figurative Pottery



SAJAK-SAJAKKU YANG LALU
Aku tak bisa berbuat banyak dalam hidupku. Aku lakukan apa yang kubisa. Menulis sajak bukanlah jalan hidup atau kematiaanku. Aku hanya ingin tahu keduanya meski pengetahuan manusia tak pernah utuh tentang realitas yang ada. Semua sajak ini adalah sebuah proses di mana aku sebagai manusia yang terkadang sedih, bahagia hingga merasa terasing dari dunia mencoba untuk menyeimbangkan diri agar benar-benar menjadi manusia. Semua sajak yang punya banyak gaya dalam penulisannya ini adalah usaha mengekalkan kenangan bersama orang yang dekat atau jauh dariku. Yang sesekali datang dan pergi atau tidak sama sekali. Tak ada penilaian untuk semua ini selain apa yang ada pada setiap kata itu sendiri. Sebab tak ada yang pernah selesai dalam hidupku juga sajakku...

Bagian XI

KITA ADALAH BAYANG-BAYANG

di tempat ini
kita adalah bayang-bayang
bercinta dengan tubuh telanjang
bergelinjang dari arah mana saja
tak mengenal rindu dan derita

kita sebagai bayang-bayang
mengiringi detak sunyi
pada arus bunyi yang samar
mengikat jawab dan tanya
pada sebatang lilin yang berkobar

kita sebagai bayang-bayang
mengarungi gelombang-gelombang
menyusuri lubang kosong bahasa
sebab aku gelap dan kau cahaya

yogyakarta, 2007


MALAM BAGI YANG MEMINTA SAJAK

malam yang tak bersosok
kumasukkan ke dalam mataku
untuk mengetuk pintu demi pintu nafasku

di sana kubentangkan jalan-jalan
dengan kenangan masa lampau
dan kenangan masa depan

pelan-pelan
pintu-pintu nafasku terbuka
membangun rumah kata
berdinding gelap
beratap embun
berlampu bulan

membangun
sebagai mata malam
membangun
sebagai malam mata

lalu,
mataku adalah malam
malamku adalah mata

malam sebentuk mata
mata yang melihat sunyi
mata yang melihat sepi
mata yang melihat luka
mata yang melihat suka
mata yang mengalirkan sesosok mimpi

mata sebentuk malam
malam adalah kata-kata yang dilagukan
malam adalah nada-nada yang dilantunkan
malam adalah sebaris gerak-gerak ritmis
malam adalah sepenggal sosok yang tertanggal

malam menjadi mataku
mata menjadi malamku
rumah segala asal-muasal

yogyakarta, 2007

UNTUK MAUT YANG SELALU DATANG

maut selalu datang kepadaku
dengan parang di kedua tangannya
kubiarkan ia
dengan ketakutan dan keberaniannya
menusuk perutku
memenggal kepalaku
dan memotong-motong tubuhku

aku adalah angin
untuk tangan kanannya
aku adalah air
untuk tangan kirinya

yogyakarta, 2007

REDE

I.
kita berdiri bersebrangan
aku di utara dan kau di selatan
diam mengatur bunyi sendiri-sendiri
lalu ada kata selepas pergi
di setiap telapak kaki

II.
kau ada di antara kursi dan meja
kemudian menerobos pintu dan jendela
memintaku menangkapnya
dengan sebuah tandabaca

III.
dalam tidurmu aku punya matakata
mengenalmu tanpa rupa
setelah kau bangun bacalah
matakataku ingin mengenal matamu juga

IV.
ia yang selalu memainkan bunyi adalah sunyi
ditiup dari segala penjuru oleh waktu
menembus tubuhmu
mewarnai kertas putihku

sumenep, 2006-2007

SETELAH KEPERGIAN

setelah kepergian
kita sama-sama jauh
bayang pun tak tumbuh

ruang cahaya pertemuan kita
hanya menggoda sementara
demi segala sepi dan luka
demi sesuatu yang harus tiba-tiba ada

setelah kepergian
semua tak bisa dijelaskan
semua harus berlangsung
dengan kesendirian
seperti dulu
ketika kita belum mengenal rindu

yogya, 2007

BURUNG-BURUNG HANYA BERKICAU

di mana-mana
burung-burung itu terbang
memasuki tubuh si mati

berkicau-kicau dalam detak jantungnya
berkicau-kicau dalam hatinya

tetapi si mati matanya tetap tak terbuka
tetapi si mati tubuhnya tetap tak bergerak

burung-burung itu hanya berkicau
berkicau semerdu-merdunya
berharap bersarang di tubuhnya

yogyakarta, 2007

MALAM LEBARAN

takbir telah dikibarkan
malaikat-malaikat serupa kembang api
dan tubuh salah tak berdaya
ingin meletus di cakrawala
demi segala dosa
tapi, biar angin mengucap maaf kita
mengetuk rumah jantung kita

yogyakarta, 2007

*Dunia Absurd merupakan blog pribadi penyair Ala Roa yang dikelola sepangjang tahun 2008-2012. Dunia Absurd memiliki pesan: “Dalam kehidupan, kematian yang tak sempurna adalah karya besar yang jarang orang menemukannya. Sebuah keheningan yang terdalam dari hati seorang manusia.”  Sedangkan Ala Roa ialah penyair Eksistensialis yang pernah saya kenal, dan sempat saya jadikan guru. Ia menyebut dirinya dengan : “Aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Aku bukan penyair atau sastrawan. Aku adalah manusia biasa seperti juga yang lain. Aku hanya ingin mengungkapkan segala yang terjadi pada diri atau pada yang lain. Aku merasa hidup dan mati tak akan pernah bertemu. Namun suatu saat kita pasti akan kembali dan kembali. Di mana kita tak akan pernah bercerita dengan mulut sendiri sebab kita adalah matahari yang dibahasakan bunga-bunga.”
Mengenai tulisan ini, kesemuanya diambil dari: http://alaroa.blogspot.com