LABANG ARSIP

Sajak Ala Roa - Dunia Absurd, 08 September 2009



Sumber: Lukisan Abstrak Karya Dario Campanile



MENJANGKAU NAMAMU

Ah, apa yang sebenarnya terjadi di ruangan ini. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Perasaan dan pikiranku tak peka lagi menangkap sesuatu yang berada di luar dan dalam diriku. Namun, aku masih sadar kalau aku masih bisa merasakan yang ditangkap oleh semua panca indraku. Memang begitu rumit untuk memaknai semua ini. Mataku hanya melihat. Hidungku hanya mencium. Telingaku hanya mendengar. Tanganku hanya meraba. Mulutku hanya mencecap. Selain itu hanya getir yang terlalu membuatku takut di ruangan ini.

Rasanya aku ingin menerkam ketakutanku ini. Ketakutan yang serupa binatang buas yang ingin aku mangsa hingga mati sensara. Aku sangat benci ketakutan ini. Ketakutan yang berawal dari diriku sendiri yang entah. Apa yang paling berharga dari seorang manusia kalau tak memaknai hidupnya? Aku benar-benar tak berdaya saat ini. Lalu, siapa yang mampu mendengarkan semua ini?


Meski, aku tak sendiri di dunia ini yang mengalami hal yang sama dengan diriku, aku tak yakin ada yang akan mendengarkannya. Manusia dalam hidupnya selalu bertujuan untuk bahagia tetapi sangat jarang yang memahami keberadaannya. Dan apa yang terjadi pada diriku bukanlah kebahagiaan. Ini adalah suasana sadis yang membuat orang bisa bunuh diri.

Jika ada yang tahu apa yang ada dalam kepalaku mungkin yang ada dalam kepalaku itu adalah semacam teror ketakutan bagi orang lain. Mengapa tidak, toh yang ada di kepalaku hanya kepalaku yang terpenggal atau dadaku yang sobek oleh belati yang berada ditanganku sendiri. Atau seluruh tubuhku berwarna biru dan mulutku berbusa oleh segelas racun yang aku minum. Setelah itu, apa yang diketahui? Tak ada. Sungguh tak ada yang berarti. Semuanya akan berlalu begitu saja tanpa bekas kecuali ketakutan.

Banyak orang akan mengatakan semua ini hanya akibat kekosongan diri yang begitu lama dan sangat dalam hingga kesedihan dan ketakutan melampaui makna-maknanya sendiri untuk mengkristal menjadi kebahagiaan dan cinta. Aku tak percaya. Sungguh tak percaya. Aku bahagia bersama orang-orang yang berada di sekelilingku dan aku mencintai mereka. Jika ini sebuah kekosongan, lalu, apa yang harus aku lakukan? Tuhan pun menghindar dari ketakutan ini apalagi manusia. Semuanya hanya datang dan pergi tanpa menyisakan apa-apa.

Mungkinkah kekosongan adalah dunia di mana Tuhan berdiam diri untuk asing pada manusia? Namun, apa bedanya manusia dengan Tuhan? Dia hanya pandai bermain petak umpet dan manusia mencarinya. Dan aku tak akan mencari-Nya. Tuhan terlalu pintar untuk aku temukan. Aku akan biarkan Dia datang kalau memang suka. Kalau tidak, biarlah.

Sudahlah, aku akan berusaha sabar dan jujur dalam menjalani segala yang terjadi ini. Walaupun aku sendiri asing dengan diriku sendiri. Hidup dalam dunia yang penuh dengan horor. Toh dalam hidup aku tak pernah berkeinginan mencari atau malah menjadi Tuhan. Aku manusia yang ingin benar-benar menjadi manusia. Aku yakin sebuah nama akan menjadikanku manusia. Entah itu nama apa dan siapa. Sekarang akan aku katakan nama itu adalah namamu yang entah.

Kekosongan hanya kekasatmataan, ketidakjelasan, ketidaktahuan tentang sesuatu hal. Seperti sekadar namamu yang tak bisa aku jangkau. Aku merasakan kekosongan seperti yang diyakini setiap orang. Namun, aku tak pernah meyakini itu. Aku tak merasakan kekosongan. Hidupku tak pernah kosong. Sebab, aku tahu walau tanganku tak mampu sekadar menjangkau namamu, sesuatu yang disebut misteri selalu hadir dari hati ke mimpi atau dari getar ke bunyi.

Aku dan dunia seperti salah satu penggalan sajak Dorothea:

Dunia menuju sekarat
Nurani mengabur dalam segala tanda
Menggumpal dalam rahasia
Tak dapat dibaca lewat segala bahasa

Ah, tetapi kuyakin suatu saat semuanya akan pasti!

Yogyakarta, 06-09-2009

Dunia Absurd, 27 Oktober 2009
MENCARI SEBUAH KETENANGAN

Sebulan ini aku tak merasakan ketenangan sedikit pun dalam hari-hariku. Selalu rame ada di mana-mana. Penuh benturan-benturan batin. Ketika tidak merasakan ketenangan siapa yang bisa berpikir dan merenung? Padahal aku ingin berpikir dan merenungkan semua yang terjadi dalam hidupku. Inilah persoalan hidupku di mana aku diharuskan mencari ketenangan di tengah-tengah gaduhnya segala suasana.

Aku tak mempunyai cara bagaimana mengatasi masalah ini. Sebagai seorang penulis seharusnya aku mempunyai sebuah cara untuk mengatasi masalahku ini. Bagiku tak punya uang, tak punya pacar, tak punya apa pun yang bersifat materi sebenarnya tak akan menjadi masalah yang begitu berarti. Aku ingin belajar dan menulis dengan tenang. Itu saja. Namun, bagaimana caranya? Sebagai manusia aku mempunyai dua ruang yang aku tempati, pertama, ruang privat di mana yang ada hanyalah aku sendiri, belajar dan menulis dengan tenang. Kedua, adalah ruang publik, di mana aku harus bergaul dengan semua orang, bertukar pengetahuan dan lain sebagainya.

Dalam keseharianku rasanya aku tak mempunyai semua itu. Antara ruang privat dan publik bercampur aduk tak jelas di mana. Untuk itu, aku harus memperjelas kedudukan keduanya. Namun, ini adalah sebuah teori dan semua teori tak akan mampu bisa menyelesaikan semua persoalan yang ada. Teori hanya kerangka cara yang bersifat mengikat dan jarang menyelesaikan masalalah dengan baik. Jadi teori bukan jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah ini.

Persoalan yang sedang aku hadapi sangat sederhana yakni, aku selalu diramekan oleh teman-temanku yang ada di kamarku, aku tak bisa menikmati buku yang aku baca, aku tak mampu menulis dengan baik karena imajinasiku tersekat oleh kehdiran mereka. Aku merasa tenang ketika mampu beraktivitas dengan bebas di kamarku. Berbuat kegilaan demi kegilaan. Haruskah aku mengusir mereka? Aku rasa tidak. Aku juga mengerti bagaimana keadaan mereka. Mereka adalah teman-temanku yang patut aku acungi jempol. Mereka telah mengajari aku banyak hal tentang bagaimana menjalani hidup yang begitu rumit kujalani selama ini. Aku salut dengan kedewasaan mereka walaupun rata-rata umurnya masih lebih muda dariku.

Aku mencoba menghubungi tiga orang temanku. Aku tanyakan bagaimana cara meneyelesaikan permasalahan ini. Aku tanyakan kepada mereka: bagaimana ya caranya agar orang lain mengerti kalau aku butuh juga ketenangan? Teman pertamaku namanya Bernando J. Sujibto, ia menjawab: mengertilah mereka juga. Najamuddin Muhammad adalah teman kedua yang aku hubungi, jawabannya; buat mereka terangsang hingga tak ada lagi dunia selain menyelesaikan sebuah perjalanan yang nikmat, jawaban ini intinya sama dengan temanku B.J. Dan temanku yang ketiga, Denar F Daniar tak menjawab apa-apa.

Setelah aku renungkan jawaban-jawaban temanku. Pengertian adalah cara terbaik yang mampu memecahkan masalah ini. Aku kurang mengerti orang lain. Aku harus lebih mengerti mereka. Semua teori yang tercipta sebenarnya adalah untuk mengerti orang lain dari pada diri sendiri, entah bagaimana konsepnya semua teori adalah untuk mempermudah menemukan sebuah ketenangan dan kedamaain.

13-10-2009


*Dunia Absurd merupakan blog pribadi penyair Ala Roa yang dikelola sepangjang tahun 2008-2012. Dunia Absurd memiliki pesan: “Dalam kehidupan, kematian yang tak sempurna adalah karya besar yang jarang orang menemukannya. Sebuah keheningan yang terdalam dari hati seorang manusia.”  Sedangkan Ala Roa ialah penyair Eksistensialis yang pernah saya kenal, dan sempat saya jadikan guru. Ia menyebut dirinya dengan : “Aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Aku bukan penyair atau sastrawan. Aku adalah manusia biasa seperti juga yang lain. Aku hanya ingin mengungkapkan segala yang terjadi pada diri atau pada yang lain. Aku merasa hidup dan mati tak akan pernah bertemu. Namun suatu saat kita pasti akan kembali dan kembali. Di mana kita tak akan pernah bercerita dengan mulut sendiri sebab kita adalah matahari yang dibahasakan bunga-bunga.”
Mengenai tulisan ini, kesemuanya diambil dari: http://alaroa.blogspot.com