LABANG ARSIP

Sajak Ala Roa - Dunia Absurd*, 29 Agustus 2009


SAJAK-SAJAKKU YANG LALU 
Aku tak bisa berbuat banyak dalam hidupku. Aku lakukan apa yang kubisa. Menulis sajak bukanlah jalan hidup atau kematiaanku. Aku hanya ingin tahu keduanya meski pengetahuan manusia tak pernah utuh tentang realitas yang ada. Semua sajak ini adalah sebuah proses di mana aku sebagai manusia yang terkadang sedih, bahagia hingga merasa terasing dari dunia mencoba untuk menyeimbangkan diri agar benar-benar menjadi manusia. Semua sajak yang punya banyak gaya dalam penulisannya ini adalah usaha mengekalkan kenangan bersama orang yang dekat atau jauh dariku. Yang sesekali datang dan pergi atau tidak sama sekali. Tak ada penilaian untuk semua ini selain apa yang ada pada setiap kata itu sendiri. Sebab tak ada yang pernah selesai dalam hidupku juga sajakku...

Bagian VIII

UNTUK PENGUNJUNG SUNYIKU

di rumah aku sendiri menunggumu
pintu kubuka sepanjang waktu
berkunjunglah
kusediakan ruang tamu seadanya
kita bisa ngobrol apa saja
sambil minum segelas teh atau kopi

syaratnya hanya jangan ngobrol
tentang ingatan
isi rumahku adalah ingatan
yang penuh tanda pengenal

aku tak akan melarangmu membawa oleh-oleh
kau boleh membawa rasa sakit, bahagia dan cinta
bahkan kau boleh datang membawa pisau,
selembar kain kafan
lalu, membunuh dan menguburku

:rumahku adalah rumahmu juga
tempat semuanya terlahir
dan terbuang

jika kunjunganmu selesai
pulanglah dengan sunyiku
tetapi tolong pejamkan mata angin
yang selalu menatapku sebagai salam
sebab aku masih mengingatmu
seperti isi rumahku

yogyakarta, 2007


KATA TANPA MATA

1/
adalah udara
yang rindu, dendam, dan cinta
mengincir setiap gerhana

oh, malam yang malang
mimpi semakin berkurang
embun semakin jernih
mengetuk lambai daun lirih

oh, siang yang panas
keringat semakin terkuras
udara menyandra sketsa
masuk dalam rumah-rumah kaca

mata adalah cuaca
berbisik pada telinga semesta.

2/
kulihat jalanan sesak dengan tanda seru
mesin-mesin menderu
cerobong pabrik mengeluarkan asap kelabu
kertas-kertas berterbangan menyatu dengan debu
tinta mengalir pada lembah mimpiku;
menulis tubuhku.

Jogja, agustus, 2006

TENTANG KENANGAN

hari dan umur telah satu
menyisakan dongeng kanak-kanakku
di gedek bambu
di atas tikar daun lontar
:mengarang arah tuju
di setiap hujan dan kemarau

kini kuberada di antara sajak-sajak
bermain derit pintu dan jendela
kibasan gorden pada kaca
dentingan piring dan garpu
manisnya segelas susu dan cappocino
terkadang bunyi gitar dan piano
:belajar sepi dan masa lalu
di sudut-sudut waktu

hingga aku ingat
semuanya bisa saja berlalu

Yogyakarta, 2006

DI LUAR KATA

sinar bulan
dan sinarmu
pecah bergetar di kamar tamu
aku masih selalu mengintipnya
dengan kertas dan tinta di tangan;

mungkin itu sebuah cerita
mungkin pula sajak cinta
yang belum tercipta

sebab berkali-kali kulemparkan tatap
grafis-grafis yang kudapat
dan berkali-kali pula kumenunggu kata
tintaku hanya menggores titik dan koma;

kusadar semuanya memang butuh waktu
untuk aku tangkap dan kutaruh dalam saku
tetapi aku ingin sering menyebutnya
meski tak cukup sekadar duka

Yogyakarta, 2006

SAJAK BATU

bila sesuatu tak lagi butuh kata
kau berhenti pada sebuah titik
semuanya akan beku serupa batu
dan ada seribu mata pada kerasnya

Yogyakarta, 2006

TATO KUPU-KUPU

melihat tato pantatmu
serupa menyaksikan kupu-kupu di taman
terbang bertasbih pada kuncup kembang
lalu di mataku ada kalimat yang tak ingin aku buang
sebagai doa sepanjang jalan

Yogyakarta, 2006

GAMBAR KABAR

pada sebuah gambar kau kirim senyum
dan lambaian tangan
di perempatan jalan di dadamu
;kabar ciptaan rasa yang dipintal masa

aku pun kirim gambar senyum
dan lambaian tanganku
karena kuingat kita pernah bermain bersama
di atas hamparan pasir
di bawah rindang cemara
tetapi entah apa kabarku juga sampai
karena angin tak pernah berpesan
bahwa ada luka di dada kita

Yogyakarta, 2006

BERITAHULAH KEMATIANKU

sebelum kutahu kuburku
kuingin tahu kematianku
di rekah bibirmu
saat kau memanggilku

sekarang kurasa semuanya masih
sedekat sajak
sehalus kulit malam dan
setajam mata samurai
yang menempel di wajah jam

jika kutahu kematianku
kutanam bunga di bibirmu
dan matiku bukan benalu

sebab yang kupunya
tak ada yang dapat kusebut abadi
seperti baju dan celana dalam lemari
kertas dan ballpain dalam laci

beritahulah kematianku!
aku hanya angka di bibirmu
belajar menjumlah angin yang memasuki
ruang kamarku

beritahulah kematianku!
nama hanya kata
kata hanya suara melata
sekalipun nama dan kata
adalah jantungku
napasku ada pada bibirmu

beritahulah kematianku!
panggillah aku
kutunggu dengan ukuran tubuhku
di senggang waktu

Yogyakarta, 2006

*Dunia Absurd merupakan blog pribadi penyair Ala Roa yang dikelola sepangjang tahun 2008-2012. Dunia Absurd memiliki pesan: “Dalam kehidupan, kematian yang tak sempurna adalah karya besar yang jarang orang menemukannya. Sebuah keheningan yang terdalam dari hati seorang manusia.”  Sedangkan Ala Roa ialah penyair Eksistensialis yang pernah saya kenal, dan sempat saya jadikan guru. Ia menyebut dirinya dengan : “Aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Aku bukan penyair atau sastrawan. Aku adalah manusia biasa seperti juga yang lain. Aku hanya ingin mengungkapkan segala yang terjadi pada diri atau pada yang lain. Aku merasa hidup dan mati tak akan pernah bertemu. Namun suatu saat kita pasti akan kembali dan kembali. Di mana kita tak akan pernah bercerita dengan mulut sendiri sebab kita adalah matahari yang dibahasakan bunga-bunga.”
Mengenai tulisan ini, kesemuanya diambil dari: http://alaroa.blogspot.com