LABANG ARSIP

Sajak Ala Roa "Yang Disebutnya Sebagai Sajak-Sajak Lucu" Bagian IV




Compare Prices on Chinese Abstract

Dunia Absurd, 26 September 2012


LUKA PERJALANANKU

kakiku telah jauh melangkah
jalan demi jalan telah aku lalui
jarak demi jarak telah aku tempuh
kakiku penuh luka yang tak mampu aku obati

luka ini begitu menyiksaku
sakitnya sangat mengganggu
luka ini begitu membuatku untuk berhenti
sakitnya hingga ke ulu hati

ke mana aku akan menyembuhkannya?
di mana tempat yang mampu mengobati luka ini?
aku tak ingin hanya disuguhi cerita
aku tak ingin hanya disuguhi kata gombal dan basa-basi
sudah cukup rasanya aku menjerit
sudah cukup rasanya aku mengeluh
sudah cukup rasanya air mata ini menetes
dan akupun tak kuasa berdiri


aku telah berusaha untuk menyembuhkan luka ini
aku telah paksakan diri mencari obatnya ke sana kemari
aku tak tahu apa yang harus aku lakukan lagi
usahaku hanya menciptakan luka yang lebih melukai

kesabaran adalah hati
hati adalah matahari
kini kesabaranku hampir hilang
kesabaranku telah penuh darah dan nanah
pada perjalanan ini aku hanya ingin menahan amarah

ke mana aku akan menyembuhkannya?
di mana tempat yang mampu mengobati luka ini?
perjalananku masih panjang
sedang di ujung perjalanan telah banyak yang menunggu

kesedihan di dunia ini bukan kesedihan bagiku
kebahagiaan di dunia ini bukan kebahagiaan bagiku
apalah arti semuanya jika aku tak merasakan yang sebenarnya
kata-kata hanya melintas tak memberikan makna
aku yang berada dalam luka tak mampu berbuat apa

orang-orang mengira aku putus asa
orang-orang mengira aku tak berusaha
orang-orang mengira aku sudah gila
penilaian ada hanya pada yang nampak saja
kebenaran hanya asumsi karena semua pasti berubah

apakah ada yang tahu dan paham bahwa
seseorang harus berpikir hingga tak mampu berpikir lagi
seseorang harus bertindak hingga tak mampu bertindak lagi
hingga tahu bahwa dirinya bukan apa apa selain mimpi

berhenti melakukan bukan berarti diam
sebab diam lebih berbahaya dari ancaman
dan aku tak akan berhenti di sini

Tuhanku
Yang Maha Mengatur
perjalanku ini masih panjang
aku ingin berjalan meski tak kuat lagi
jangan jadikan perjalananku sebagai rahasia
jangan jadikan aku rahasia atas lukaku sendiri
jangan jadikan luka perjalananku rahasia

Tuhanku
Yang Maha Tahu
tak ada yang bisa mengobatiku
hanya Engkau yang tahu
luka perjalananku ini adalah rahasiaMu
sembuhkanlah aku
perjalananku masih panjang
aku tak ingin berhenti di sini

yogyakarta, 2o11

PEMABUK YANG MENARI

aku seorang pemabuk yang menari
aku mabuk tanpa minuman
aku dimabukkan musik
aku dimabukkan kata-kata

aku mabuk dan menari di mana saja
tak peduli panas atau hujan
tak peduli kenyang atau lapar
aku ada di semua tempat
dengan musik dan kata-kata

tubuhku adalah nafas bunyi
tubuhku adalah nafas gerak
yang menari menyusuri nafasnya sendiri

aku yang mabuk tak akan berhenti
akulah setiap nafas alat musik dan huruf-huruf
akulah setiap nafas hati
yang tak kau tahu bunyi dan geraknya

aku bergerak  bersama isi semesta
memendam bayangnya
menyatu dengan diri yang sebenarnya
terbang kesana-kemari seperti rajawali

jangan tanya mengapa begini
jangan tanya mengapa harus begini

semua ada seperti musik
semua ada seperti kata-kata
aku seorang pemabuk yang menari
ke dalam sunyi bunyi sendiri
jika musnah segalanya
aku berhenti

yogyakarta, 2011

SUJUD KATA

inilah semesta tempatku
aku membaca dan menulisku
aku bersujud kepadaMu
aku tak peduli jika tak ada yang membaca dan menulisku
karena Kau hidup dan matiku

yogyakarta, 2012

SAJAK 1

di mana akan aku bisikkan suaraku ini
jika semuanya adalah telinga
di mana akan aku tulis kata-kataku ini
jika semuanya adalah kertas kosong

kau mengatakan di sini saja
dia mengatakan di sini saja
mereka mengatakan di sini saja

biarlah  kubisikkan dan kutulis di dalam hati
di mana kau, dia, dan mereka ada
bersama keabadian rahasianya

yogyakarta, 2011

SAJAK YANG TAK MAMPU AKU TULISKAN

orang-orang berjalan di jalannya masing-masing
di jalanan orang-orang menyiksa tersiksa
memelihara dendam
memelihara diri yang berduri
sebelum tuntas untuk pergi

mataku berhamburan dalam dada
aku melompat ke dalam diriku
mencari mata yang sempurna
mencari kesempurnaan penglihatan
dari mataku sendiri
yang kian lama kian sepi cahaya

di sana mata-mata menangis
berbicara dan bercerita tentang kesedihan
di antara kemiskinan dan kelaparan
di antara keagungan dan tipu daya

kata-kataku sakit walau tak menyentuhnya  sama sekali
sebagai sajak atau puisi
sebagai makna dari yang mati

mata-mata terus saja menangis
di mana aku?
di mana sajakku?
pertanyaanku tak selesai hanya dengan tindakan
kata-kataku berpijar
aku tersiksa tak mampu menuliskannya

kamar siput, yogyakarta, 2011

HUJAN MALAM BULAN APRIL

semakin malam lukisanku berjatuhan
lukisan hujan
melukis daun
melukis tanah
melukisku hingga basah

aku dari hulu ke hilir
mengalir dalam takdir
menyusurimu dalam lukisanku
menyusuriku dalam hujan
tetesan air demi tetes
menjadi daun
menjadi tanah

semakin malam
semakin hujan
semakin berjatuhan
aku semakin basah

kamar siput, yogyakarta, 2011


*Dunia Absurd merupakan blog pribadi penyair Ala Roa yang dikelola sepangjang tahun 2008-2012. Dunia Absurd memiliki pesan: “Dalam kehidupan, kematian yang tak sempurna adalah karya besar yang jarang orang menemukannya. Sebuah keheningan yang terdalam dari hati seorang manusia.”  Sedangkan Ala Roa ialah penyair Eksistensialis yang pernah saya kenal, dan sempat saya jadikan guru. Ia menyebut dirinya dengan : “Aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Aku bukan penyair atau sastrawan. Aku adalah manusia biasa seperti juga yang lain. Aku hanya ingin mengungkapkan segala yang terjadi pada diri atau pada yang lain. Aku merasa hidup dan mati tak akan pernah bertemu. Namun suatu saat kita pasti akan kembali dan kembali. Di mana kita tak akan pernah bercerita dengan mulut sendiri sebab kita adalah matahari yang dibahasakan bunga-bunga.”
Mengenai tulisan ini, kesemuanya diambil dari: http://alaroa.blogspot.com