LABANG ARSIP

Puisi "Seandainya Ia Datang untuk Wiji Thukul" dan "Sungai Yarra" karya Bernando J. Sujibto





Jurnas | Minggu, 16 Maret 2014



Seandainya Ia Datang
untuk Wiji Thukul

Seseorang berdiam di mata peluru
hidupnya adalah kobaran api di sebuah pulau
disembunyikan waktu pada daun yang nyaris jatuh
menyaksikan pertikaian-pertikaian di seberang pulau
dihadang jutaan kecemasan

bahwasanya
tak ada tempat persembunyian
untuk dirinya yang sebentar melesat
menembus jarak dari pintu ke pintu
ke tengah belantara, ke padang batu
ke tengah rawa-rawa

seandainya ia datang
kita akan merayakan pesta
kemenangan yang tak pernah ada
di tengah kebun tebu.


Buat yang Terdiam

Sesuatu yang tak digali
Kedalamannya adalah rasa curiga



Sungai Yarra
--Suatu hari di Melbourne

sebuah sungai dari masalalu yang terluka
mengalirkan kecemasani ke tengah riak kota
masalalu terlipat pada daun-daun musim gugur
tanah merah di sebuah kampung yang dibakar
tanpa jejak dan karnival kehilangan

di sepanjang sungai ini
kudengar lunta mereka
ditiup angin bulan september
sebuah keluarga yang kandas
di pagi yang basah gerimis
bekas sepatu laras luntur
mengalir ke tengah sungai
menjadi ricik kemilau
di tengah derai suara
orang-orang kota

di sepanjang sungai ini
aku menemukan sebuah kampung mengapung
mendengarkan nama-nama yang diperam angin
rumbalara rumbalara rumbalara rumbalara
lara yang terhempas luka, luka nganga
sebuah pesona
hulu sungai yarra.




Bernando J Sujibto. Penyuka puisi sejak di bangku MTs. Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Banyak menulis (Puisi, Kolom, Artikel dan Resensi Buku) untuk berbagai media dan telah menulis sejumlah buku. Kesukaannya berjelajah membawanya terbang ke negara-negara asing: Amerika dan Australia, sambil tetap menulis puisi sebagai pengalaman personalnya. Sekarang sedang menempuh pendidikan master di Turki.