LABANG ARSIP

Puisi Matroni Muserang - HariPuisi Indo Pos, 1 April 2014


Menerjemahkan Waktu

Menerjemahkan senja
seperti berjalan di atas gelombang membedah dada
di ujung malam kudengar musik yang lain
kusiramkan segala rindu

Kupuisikan sepanjang waktu, namun
tak bisa kuwakilkan pada kupu-kupu
untuk melukiskan kegelapan

Jalan melipat waktu
waktu melipat jalan
kuungkap satu persatu
dari ribuan yang tak terjamah

Selalu tercipta jarak
dari sekian jedah yang kutempuh
inginku, satu, menyatu, tapi
inginmu, aku tak bisa

Waktu menghadang
meradang ditepian ladang dan
aku terbang dengan sayap doa
terus menelaah alunan raga
di tengah telaga

Ciuman waktu
yang mengelus pipi dan bibirku
membangkitkan nafsuku
untuk melayani waktu

O.. nafsu
peluklah aku
untuk sekian kalinya aku bisa
merasakan elusanmu

Nafsu yang melipat rindu
rindu yang melipat nafsu
kucium satu persatu
dari keningmu hingga jari kakimu
Puaslah aku
melayani waktu
mengolah rasa
menangkap isyarat semesta

Sleman, Juli, 2013


Selesaikah

Kau datang membawa kata
Membawa banyak luka, kau biarkan ia meleleh ke lembah

Dia mengembara menyepi di balik kesunyian cahaya

Malam, tiga waktu mengetuk kesombongan
Kau pun diam, untuk memetik makna apa sebenarnya cahaya

Pagi, kau selesaikan bersama embun
Lalu kembali seutuhnya ke ladangku

2012


Siang

Wanita cantik sekali dimataku
Ia hendak menusuk ulu hatiku
Sementara, luka masih menetes
Dan aku yang takut akan cinta
Bersembunyi dibalik jendela

Malam-malam menjelma rambutmu yang hitam
Waktu terus mengalir
Keresahan, tak pernah susup

Demi siang, akan kutunjukkan
Matahari terbit dari matamu

Seterik apakah matamu
Sehiruk-pikuk apakah dirimu
Akan tetap aku selami kedalaman cahaya

Dulu, di sini, ada sisa taman
kita saling berdekapan

Taman-taman itu mengalir ke tubuhku
Menjadi semesta

Suatu waktu aku ingin semesta
Menjadi sajakku
menata ruang di dada
menata cahaya

2012