LABANG ARSIP

Puisi Matroni Muserang - NU Online, 06/01/2013


Seoalah-Olah Cinta, namun Kebencian Rahasia

Kesunyian memikat, jejak balpoin menyusuri puisi
Seoalah-olah cinta, namun kebencian rahasia, kesombongan sia-sia

Kerenyuhan mengajak ke cakrawala
Senja berganti malam
Perut gersang menanti makan
Entah dari mana
Apakah sunyi itu hendak mengantar?
Menyulamkan sepiring kedamaian
Menjamui kegersangan perut-perut itu

Kata-kata merindui, janji-janji Tuhan
Kesabaran beku
Oleh waktu
Dimanakah keagungan dan kemaha-anmu?
Membiarkan aku menjerit beku
Mata panas berairmata

Orang-orang aku benci, Tuhan pun aku benci
Janji kosong, ritualku kosong,
Buah-buah kosong dari sentuhan maha

Maha kini hanya status
Tak memiliki makna apa-apa

Ritualmu sudah aku lalui
Perintahmu sudah aku cermati
Laranganmu sudah aku beri, tapi
Keterdiamanmu sudah aku benci

Yogyakarta, 2012

Panggilan Sia-Sia

Jika korupsi seringkali terjadi maka aku berharap bangsa hancur sampai koruptor berteriak, meminta tolong, aku tidak akan menolong, biarkan koruptor mati berkalang tahi.

Biarkan dia, mencari sisa nyawanya sendiri, biarkan cari tempat sendiri, biarkan dia pergi ke luar negeri, mencari ketenangan, aku tetap tak akan menolong koruptor.

Aku ingin koruptor menjadi penjual tahi, yang menghabiskan uang pergi ke luar negeri, dan hari-harinya berisi tahi, sambil berteriak meminta membersihkan tahi, aku tetap tidak akan menolong, biarkan saja mereka makan tahinya sendiri.

Ia bekerja sewenang-wenang, mengotori rumahnya dengan tahi, menjemur bajunya di bawah tangisan rakyatnya, kehujanan tak ada yang menolong warganya, aku akan menolong warganya, biarkan koruptor mati kehujanan.

Aku ingin koruptor menjadi anjing, di pelihara oleh rakyatnya, jika malam harus tidur, di mandiin, bakar jika mau, dibiarkan kelaparan jika mau. Aku ingin koruptor seperti anjing kelaparan.

Aku ingin koruptor menjadi tahi, berjalan tak dihiraukan, malam-malam meminta, sedang aku duduk tak memberinya, 


Yogyakarta, 2011-12


Pengabdian

Kuruptor, hanya engkau yang tak bisa kuselamatkan
Cobalah pahamkan padaku, tentang rakyat
Sungguh tahi engkau, tak bisa mengajarkan kata-kata
Aku memilih engkau dengan senang, tapi engkau mati tahi

bagiku, engkau tanggungjawab, malah mematikan
Kau bawa sejuta bahasa rakyat, tapi semua kekosongan sia-sia
Sungguh laknat hidupmu, membiarkan rakyat kelaparan
Apalah arti sebuah puisi ini, jika engkau tak mampu membaca

Pengabdian hanya ruang kosong.
Rakyat tak ada di jiwamu
Syukurlah engkau masih hidup, walau tanpa makna

Yogyakarta, 2011-12

November Hujan Pertama

Aku tak sanggup melakukan apa-apa
Kalau hanya kerumunan lebah menyenggat
Sendiri kubayangkan suara-suara
Merindui kawanan para pemabuk cinta
Cerita tentang merindu-rindu
Dalam kamar di atas perlat berkotak
Kulepaskan padi yang menguning
Menumpuk kata-kata,

November ini hujan belum turun
Padahal kami disini sangat berharap
Rindu membajak tegal, menanam jagung,
Kacang, dan buah-buah
Dan rindu suara-suara sapi
Memanggil keberangkatan masim hujan

Kini,
Dimanakah tegal dan sawahku yang subur?
Membuah hasil menumpuk
Seperti aku yang berharap
Buah ranum di jejakku
Mengintai turus bayang-bayang
Di kelopak refleksivitas kesemestaan

Kiloan tahun berlalu
Berat hari pun tak terhitung
Bagaimana mungkin menghitung kemewaktuan itu?
Hingga jelas berapa jumlah detik
Yang tak disadari

November ini benar-benar melelahkan
Mencari detik dan hari-hari
Untuk apa, tanyaku,
Untuk kejelasan sejarah
Untuk buku harian yang tak berisi

Karena aku ingin seperti zaman sekarang
“semua orang menciptakan sejarah sendiri-sendiri”

Jogja, 2012


Negeri Bayang-Bayang

Negeri bayang-bayang
Yang kuciptakan sendiri
Tak pernah lahir
Untuk kupuisikan
Sebagai bentuk kesalahanku pada semesta

Negeri tanpa rakyat
Yang dibangun diatas mimpi-mimpi
Membuat halaman utama
Menjadi serba tak tentu
Dalam belenggu ketidakpastian

Kata-kata sudah kunyanyikan
Bahwa kami hidup dan butuh makan
Untuk melanjutkan bayang-bayang
Yang tak tersiram bunga-bunga

Negeri itu di bangun tengah malam
Di saat orang terlelap tidur
Dan tak semua orang tahu
Rembulan yang kupetik
Sebagai cagak negeri yang tak memiliki waktu
Tersiram cahayanya

Wajah malam
Terdiam beku
Oleh pijatan tangan lembutku
Semua tertata rapi
Seperti jari-jari

Kupegang seluruh tubuh negeri itu
Terasa ada yang kurang
Kurang dari kesejukan
Kurang dari rasa
Dan kurang dari apa-apa

Jogja, 2012