LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Kamil Dayasawa di Riau Pos, 22 Februari 2015




Hammurabi

akulah gembala dari bangsaku
padang-padang terbentang ke semua penjuru
Tigris membelah dadaku,
deras arus menggetarkan Zargos
Teluk Parsi di selatan menanti mayatku ngambang
ikan-ikan menganga menunggu hari pesta
tapi kau tahu, Samsuiluna
aku raja Babilon yang perkasa
seribu topan tak akan merontokkan rambutku

di timur tanahku terbentang hingga Susa
di barat kota Mari bernaung di bawah jubahku
maka tak perlu kubangun benteng-benteng
sebab batu bata akan dihancurkan usia

“tapi kau takut direnggut bayanganmu sendiri, Raja.”


kota Ur dan Nippur telah kuhancurkan
di sana bayang-bayangku terkapar
telah kau saksikan tanah-tanahnya membara
seribu tahun, tak akan ada bunga-bunga menguntum
bahkan gema akan susut ditelan cuaca

hanya waktu dan rindu akan menghentikan langkahku
seperti kau tahu, di depanmu kini aku terbaring
bukan lantaran darahku telah kering

bukan lantaran aku telah bersekutu dengan angin

Yogyakarta, 2015

Jalan Simpang

masih kudengar suara itu
gelora yang tak henti menyebut namamu

tahun-tahun lewat di relung syahwat
bekejaran burung-burung di langit mendung
di bawahnya seribu mesin memburu angin
bendera-bendera berkibar di tiang listrik
aku, mengutuk waktu
memburu deru

di barat kota-kota menyanjung nama
di timur Spinx menangisi padang pasir
berdiri aku di batas getir
serapah tumpah menjelma desah

Gilgamesh memburu ilusi ke ujung sunyi
Sargon menyanyikan lagu untuk kematiannya sendiri

tapi di sini aku berdiri
menimbang hari paling sunyi
di kedalaman puisi

Yogyakarta, 2015


Perjalanan Malam

denting tiang-tiang jauh dari sunyi
jalanan sepi ditinggalkan hasrat puisi
bocah-bocah tak bernama
menunjuk-nunjuk gambar di papan iklan

aku melangkah tanpa baju zirah
langit basah jadi asing
lukisan angin pada tembok kusam
bagai hikayat kematian

“apa yang kau pandang?”
kudengar suara tanpa bentuk
datang dari ufuk jauh tak berlubuk

di barat bulan langsat
berlabuh di atas masjid
orang-orang dibangunkan nyanyian burung
bintang timbul-tenggelam
seperti suara lirih gelandangan
di tengah riuh redam keramaian
ketika bertanya kuburnya di mana

“aku melihat wajah durjaku abadi
pada setiap tepi jalan ini,” sahutku.

setelah itu seribu deru datang
menyambut fajar dan terang

Yogyakarta, 2015

Kereta

aku menaksir waktu keberangkatan pada karcis terlipat
membentang harap dan cemas akan tiba di satu alamat
kursi-kursi berderet seperti pelayat kesedihan
di luar orang-orang melambai di bawah hujan

gerbong gaduh suara janji dan ucapan selamat tinggal
ada yang menangis di muka jendela, wajahnya kuyu bulan gehana

pluit melengking ditiup masinis, senja merentangkan tangan
stasiun yang pendiam membiarkan lantainya basah air mata

Yogyakarta, 2015

Karam

halamanku laut mati
hanya ombak dan angin memberi nafas pada diri

cemara-cemara melambai bersandar pada badai
puting langit menembakkan panah api
perahu warisan terbakar, abunya menyebar
membentuk gambar layar yang hilang kibar

buritan menangis bagai seorang gadis
ketika didengarnya detak terakhir jantung pasir

di atasnya aku mematung,
menangkis hujan dengan satu tangan

bintang laut bertebaran bersama lokan dan angan
gunung karang di kejauhan timbul tenggelam

meski tahu langit akan bertambah kelam
mimpiku akan dikaramkan pasang

tiang berandaku tetap kutegakkan
wajahnya yang lengang tetap kuhadapkan pada pantai
sebab aku anak ikan

yang lahir di lambung sampan

Yogyakarta, 2014

Kafe Malam

kunyanyikan lagu sunyi di tengah keramaian
kursi-kursi diam seakan khusyuk mengeja riwayat hujan
malam hitam menamparkan dingin ke wajahku
bergetarlah kalbu, bagai ditembus peluru

lantai penuh serakan puntung
sobekan kertas-kertas dipermainkan angin
kuingat lagi selembar karcis
yang kutinggalkan di sebuah stasiun
saat kereta yang kutunggu tak datang
dan kota yang kutuju telah hilang

jejak-jejak tak pasti adalah ilusi
seperti lampu-lampu kuning kafe ini
cahayanya menjangkau ke wajahku
warnanya meresap di tubuhmu

namun kita tak akan pernah bertemu

di kafe remang ini aku saksikan
wajah-wajah sama selalu datang
pergi pulang tanpa pesan

tanpa kesedihan

Yogyakarta, 2015