LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Fajri Andika di Minggu Pagi, 4 Januari 2015


Doa Seorang Nelayan
di setiap tetesan hujan aku berzikir
dalam kilatan halilintar aku bertakbir
dan di antara air pasang yang berkejaran aku
bertahlil

aku adalah nelayan
yang tak pernah lelah menanti ikan datang
meski nyawa dipertaruhkan

sebab, banjir airmata istri dan anakku lebih
menakutkan
daripada hantaman gelombang

Yogya, Desember 2014



Kalender Baru
kalender itu sudah lusuh
tanggal-tanggal yang ada di dalamnya runtuh
jatuh, berceceran di lantai waktu

tak ada lagi nama hari
matahari padam
rembulan datang tanpa sinar
yang tersisa hanyalah kelam

kelam,
tak ada cahaya kunang-kunang
kunang-kunang tak lagi ada lagi di kalender yang kelam

kunang-kunang pergi ke kalender baru
kalender yang bersinar
sinarnya lebih terang dari sinar kunang-kunang

Yogya, 2009 - 2014


Menangis
ya, tumpahkanlah airmatamu
selagi di setiap tetesnya kau menyebut nama-Nya


Batu Nisan
pergilah merantau
sebab, batu nisan akan tetap setia menanti setiap 
kepergian

Puisi Secangkir Kopi
           -buat penyair
           yang sedang menikmati kopi di kedai kopi

kopi adalah imajinasi 
bagi penyair yang menikmati

rasa manis adalah sebuah diksi
yang ia ambil dari senyum sang kekasih

cangkir hanyalah umpama
untuk menampung sekumpulan kata
yang melebur dalam ampas dan gula


Dua Makna Pagi
1/
pagiku adalah segelas susu
yang selalu dipersiapkan ibu di masa kecilku

2/
pagi adalah ketika kakek pergi ke sawah
untuk memperpanjang nafas kami


Engkau I
engkau menjelma hujan
membasahi hati yang gersang

jangan pernah lelah mengguyur
biar ia kembali subur

Engkau II
hujan adalah musik
yang menyatukan petikan gitarku
dengan suara merdumu