LABANG ARSIP

Puisi A’yat Khalili - Koran Madura, 29 Agustus 2014


Sumber: Miranti Kusuma Putri, S.Sn


TANAH GARAM

karena rindu, ombak
menjelma gemuruh
dalam dadamu
bermusim-musim

kecemasan pasir
yang menghembus
seketika terik, paceklik
menyeruak ke arah mata
menderas, bersama dahaga
sempit resah hidupmu
antara diam dan terkapar
memburaikan kelam

terpaku langit
menahan gemetar haus
yang terkuak kering
sampai ke tanah.

Madura, 2013


BUMI PEMBATIK

kami ikat segala yang terlampir
sayup-sayup dedaun melambai
disapu sinar matahari
menguak garis nusantara

kami lukis segala urat
memperteguh larik jiwa
kelanamu di bumi orang
memendari kami di sini

kami selami segala arti
pada sesuatu yang sejak dahulu kami mengerti
menjabar ceruk nurani
menghangati wajahmu pada pijarannya

ini pulau cantik nan asri
ini pulau batik mengenali diri

kami pun lukis sinar matamu
dan kami hayati lubuk hatimu
menerjemah segala rahasia
yang diombak puncak rasa.
Sumenep, 2011

PEMUKUL GENDANG SARONEN

dengan kepala berselendang
ia tabuh sebentang kulit
hangat dan terik

berdentum di puncak lembah

matahari tepat di atas kepala
memanah sang pangantan jhârân

dalam gelegar suara
yang membakar kisar lalang
tak tumbuh

ditingkah pengantin berkuda
ia menjelma pengiring
dengan kaki kungseng

setiap kali bunyi diacak
acapkali dingin menepi
ke puncak nurani

di tubuhnya
yang menopang gendang
tersulam gemuruh

ia berlenggak-lenggok
menghunjam tatapanmu
yang silau
dihempas gelora waktu

sementara pendar bunyi
dari serat tabuh
masih membubung angkasa
terus memburu di tanahku
Banuaju, 2011

DUA KIDUNG MAJANG

tujuh laut kurakit dalam sajak
tujuh perahu kulayar ke atasnya
diseret arus dalam garam kata-kata
tersangkut jadi syair dalam jiwa
ke pulau tergantung ke langit
matahari tak terbit sehabis panen
di cangkang ikan mimpi menuai ringgit
membawa pulang beribu pelayaran

Madura, 2013

TENTANG PENULIS
A’yat Khalili, ia dilahirkan di Kampung Telenteyan, Desa Longos, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, 10 Juli 1990. Karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, esai, artikel dan ulasan—pernah tersebar di pelbagai media lokal dan nasional, juga banyak mendapat penghargaan. Dan sebagian lain karyanya termaktub dalam beberapa antologi; Puisi Menolak Lupa (unggun reliji, 2010), Pukau Kampung Semaka (lampung, 2010),Sauk Seloko (PPN VI—DKJambi, 2012), Negeri Abal-abal (KKK, 2013), Dialog Taneyan Lanjhang (2013), Lelaki yang Dibeli (obsesipress, 2011), Pendidikan Karakter; Wacana dan Kepengaturan (2013), Cinta dan Sungai-Sungai Kecil Sepanjang Usia (Grafindo, 2013), Puisi Menolak Korupsi 2a (2013), Ibu Nusantara, Ayah Semesta (Gramedia Pustaka Utama, 2013), Tifa Nusantara (2014), Risalah Melayu Nun Serumpun (KL, Malaysia, 2014), dll. Sementara buku tunggalnya yang baru terbit, Pembisik Musim (Maret, 2014). Ia pernah diundang mengikuti Temu Sastrawan Melayu Raya (NUMERA) ke-1 (Padang, Sumatera Barat 2012); menghadiri Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) ke-6 (Jambi, Desember 2012); undangan Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ( Sabah, Malaysia, Januari 2012); Pemerhati Pertemuan Baca Puisi Dunia Numera (Kuala Lumpur, Malaysia, 21-24 Maret 2014), dll. Ia sekarang mendirikan Pusat Buku & Dokumentasi Roma Maca A’yat Khalili (Rumah Baca) di kotanya.