LABANG ARSIP

Puisi Ahmad Muchlish Amrin - Bali Post, 04 April 2010




Laut (2)

matahari tenggelam dalam air garam

sinar asin menghitam pekatkan kulitmu

mirip neraka yang kucipta di hari sabtu

selusin warna tak bisa kucatat di sini

membuatmu tergigil;

lalu kamu menganggapku

laut dengan ribuan gelombang

yang berbeda

tak ada surga di lautmu

hanya tubuh lumut bau bacin

di atas batu


batu yang kemarin mewakili rinduku

pada awan dan hujan

kamu berteriakteriak di tengah samudera

memanggilku berkalikali dengan umpatan

aku purapura membangun candi dari pasir

lalu badai datang

mengayunkan tubuhnya

mirip dewidewi

yang menawarkan perselingkuhan

abadabad laut jadi debur cinta

di luar suka cita;

mata air mata ditumpahkan camar

ketika mencelupkan sayapnya

di puncak ombak menggelora

dan kamu segera mengirim kabar

lewat angin



Laut (3)



memang laut yang agung itu

telah menyusun sekian penghianatan

dan teriteri tak pernah melepas senapan

merombak manikam mutiara di dasar

dewidewi laut

memuntahkan isi perutnya ke pantai;

anak binimu mengambang bagai ikanikan

bintangbintang bagai binatangbinatang

yang mulai main curang;

pelaut-pelaut menutup mata

untuk tiba di jangkar

hmm, memang aku mencipta laut

dari tekateki silang yang kubuat sendiri

bila kamu tak bisa menaruh kata

dan gambar hiu dengan tepat

kamu akan mengambang

seperti anakbinimu

ternyata, kamu mengumpatku

di dalam kamarkamar kapal pesiar

kamu menyetubuhi waktu

dan membohongi kabar badai

yang tersiar

di loudspiker ujung tiang pancang

yang mirip bulu matamu;

aku akan merayakan semerbak duka cita.