LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Kamil Dayasawa Riau Pos, 4 Agustus 2013




Polor*

kedua tangannya yang kecil
membuat bola dunia dari tanah lempung
lalu ditiupkannya roh iblis
pememangsa sekawanan burung

ketapel dikalungkan di jenjang lehernya
siap melemparkan polor ke tempat jauh
di mana sekawanan hantu tanaman berkerumun
menyusun siasat hitam pencurian diam-diam

bola dunia di tangannya dijemur
di antara rumbai rumputan
agar panas yang menyusup
menambahkan tenaga api yang siap diledakkan

wajahnya bercermin kepada lumpur hitam
dilihatnya sepasang mata ciptaan tuhan
menyerupai tanah lempung
yang baru saja selesai disempurnakan

hatinya bertanya, mungkinkah ia bagian dari tuhan
yang bisa melahirkan banyak kemungkinan
ketika hujan datang mengirim kabar badai?

burung-burung terbang menjelma hantu
bagi musim panen

di diam angin ia menukar biji matanya
dengan bola dunia ciptaan sendiri

tuhan tahu, di situ ia duduk
tak henti mengucap janji pada matahari
untuk setia menanti kedatangan musim kabut
yang akan membuatnya lupa jalan pulang

Batang-Batang, 2013

*peluru ketapel

Ranggun

1/
aku menjadi rumah segala musim
pasrah dan setia menanti tahun-tahun lewat
kakiku bambu kering sisa bangunan
atapku daun-daun kelapa mati

aku tidak pernah mengeluh
karena lumpur mengajariku ketabahan
tidak takut menjadi hitam oleh matahari
tidak takut rapuh lantaran hujan tiada henti

2/
kalau musim padi tiba, aku berteriak gembira
petani akan mendatangiku setiap hari
membersihkan lumut-lumut di tubuhku
sambil berteriak mengusir burung-burung
yang lebih menyerupai dendang lagu

lalu aku menari bersama angin
menghibur tetumbuhan padi yang mulai menguning

3/
kalau musim tembakau datang, aku tetap setia
menjadi rumah bagi kesepian
tak ada petani menemaniku sepanjang hari
ia hanya datang memercikkan harum keringatnya ke tanganku
sebelum akhirnya meninggalkanku termangu
meratapi usia tua yang dibenci burung-burung

di malam hari, akulah pengusir hantu
yang akan menggugurkan daun sebelum panen
aku bisa menyulap wujudku jadi malaikat
menakuti siapa pun yang datang mendekat

4/
sebab tuhan pernah menitipkan restu padaku
untuk menjadi surga bagi setiap kesakitan dan kesedihan

Batang-Batang, 2013

Burung Pipit

subuh membisikkan kalimat azan ke kupingku
aku terbangun dari mimpi,
bergegas terbang menjemput matahari

kutinggalkan sarang serta kehangatan
mengembara mencari biji-biji padi di sawah
angin merontokkan bulu-bulu sayapku
sisa basah embun meresap di leherku

tapi aku terus terbang menggapai awan
menampakkan kegembiraan tak tertahan

hamparan padi menguning
melambai-lambai seperti tarian ronggeng
harum tanah lumpur menyeruak ke angkasa

musim hujan, apa kabar?
kebeninganmu membuat petani tertawa
tanggul sungai kau tembus dengan alir airmu
yang berlomba mencapai petak sawah

kalau ada waktu, mampirlah ke sarangku
siramkanlah juga airmu
biar tumbuh biji-biji baru dari sisa sekam
yang kucuri dari padi petani
agar esok aku tidak bertengkar dengan mereka
dan aku bisa hidup lebih lama

tidakkah kau bersedih ketika peluru ketapel
membentur kepalaku dan aku terjatuh ke tanah
memanggil-manggil sesuatu yang tak ada?

bayangan, aku ingin menjadi bayangan
menyusup di sela pohon padi tanpa terlihat
mengambil segantang biji
untuk simpanan esok hari
tapi tubuhku yang kecil, kakiku yang kurus
tak bisa membangun lumbung

andai aku bisa melawan takdir
aku ingin berhenti mencintai angin
hidup miskin seperti petani
makan sepiring nasi hasil sendiri

Batang-Batang, 2013

Patung Kenangan

1/
sembahyangku debar ketakutan
sekaligus penolakan akan tarian bayang-bayang

kehilangan yang dijanjikan waktu
adalah duka maha abadi

kukutuk batu-batu
kupecahkan lampu-lampu
sebab diam ibarat sebilah pedang telentang
jatuh dari tangan Hector prajurit Troy di medan perang
disambut guguran kelopak kembang

hujan turun menumbuhkan lumut
mengairi pohon usia waktu

maut menggerutu memanggil dunia
di mana aku tak pernah ada

2/
aku takluk pada kegetiran sebuah doa panjang
menjelma kekosongan-kekosongan
gentayangan di antara bintang-bintang padam

ibarat seonggok patung kenangan berselempang sutra putih
yang dikirim dari negeri kayu
dengan mata mengeram air racun
mengalir dalam darahku

Batang-Batang, 2013

Jantung Perahu

aku berdenyut di antara gulungan ombak
menghitung waktu, mengukur jarak
perahu menembus kabut
bulan separuh semakin susut

aku bergelayut di tiang layar
melempar sauh, menyeka peluh
bayanganku hilang ditelan keheningan
mungkin juga dimakan ikan-ikan

aku teringat cemara-cemara melambai
ciuman selamat berlayar di kening istriku
serta doa-doa luruh di mulut pintu

kuputus tambang jangkar
agar kain layar mengabarkan kepulangan tak sampai
serta kegetiran-kegetiran tak selesai

sebab pantai tak pernah berjanji akan menjadi ibu
bagi sampan kecil yang takut pada angin

Yogyakarta, 2013

Nyanyian Daun-Daun

daun-daun menyanyikan lagu musim gugur
saat setangkai bunga dipetik
darah kental meleleh dari ranting patah
menyemerbak aroma hutan

matahari bangkit dari sumur kesunyian
seekor burung menanyakan usia waktu
yang lekat pada kelopak-kelopak kembang

lalu didengarnya suara bisikan dari dalam hutan
seperti dengung himne kematian langit dan bumi
yang semakin lama semakin lantang
menggetarkan batu-batu diam

ada akar menjalar, putus dari pangkal
bunga rontok ditampar taufan
dan seekor burung terbang menghitung jarak
di matanya, gambar kunang-kunang menangis
kehilangan anaknya

Yogyakarta, 2013


Kamil Dayasawa
Lahir di Batang-Batang, Sumenep-Madura, 05 Juni 1991. Alumnus Pondok Pesantren AL-AMIEN Prenduan Sumenep-Madura. Puisi-puisinya dipublikasikan di sejumlah media cetak dan termaktub dalam berbagai bunga rampai: Akar Jejak (2010), Estafet (2010), Memburu Matahari (2011) dan Sauk Seloko (2012). Kini ia Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam FAIB-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.