LABANG ARSIP

AIDA dan Surat CInta dalam Hujan - Oleh Amin Bashiri



Sumber: handmade abstrak


AIDA

ada yang semestinya mengenalkan diriku pada pertemuan rahasia itu
bunga yang langsat di pipimu kini bermekaran
jauh pelangi meniduri hujan pada waktu musim yang sempat kusembunyikan sebagai kado buatmu
rinai sinar matahari membakar degup jantung
aku tak tahu, apakah itu adalah irama dari embun yang menetes tadi pagi
atau hanya sunyi yang sengaja dibawa kunang-kunang bersama cahaya di perutnya

dan sepertinya tunas-tunas hijau kini telah menjelma sorga di dadaku
dari lekuk bulan telah kujatuhkan namamu sebagai mahkota di ranjang langit
namun tak ingin kudengar tangisan parau gelombang setelah sutera menjala ke laut melepas cemas dari mulutku
pertemuan kita adalah pertautan langit dengan laut
tanpa sebilah belati tajam sebagai penusuk bungkam janji

Soklancar, 06 maret 2008

Surat Cinta Dalam Hujan

akhirnya,
menjelang burung- burung terbang bertafakkur di antara sarang-sarang ilalang
suatu langkah dua pasang kaki tergontai berjalan ke arah cakrawala
yang terasa suci dari perjalanan, sebelum irama harmonika sempat ditiup bertasbih di ruang-ruang jantung
begitulah awal surat cinta terbaca oleh awan
dan aku hanya mampu ciptakan diam dengan genangan air hujan yang senantiasa menulis jelaga di kepalaku
wahai ombak, bergemuruhlah
masih ada sedikit angin dingin tertiup
namun belum beku
sebelum dibakar perapian matahari
kemudian awal salammu adalah embun getarkan daun-daun
“assalamu`alaikum”
kembali urat-urat belukar masa silam mengeret putaran jarum jam menuju waktu itu
dimana kau sembunyikan seru dzikirmu dalam lenguh laron-laron
di luar purnama masih nyalang memandang
para kawanan jangkrik masai bernyanyi dengan kunang-kunang
apa itu pesta?
sengaja semua kujatuhkan dalam ingatanku tentangmu
hingga lembar demi lembar berjatuhan
ada batu dan gerimis jingga yang pada waktu itu ikut menyapa pergumulan kita di lembah bertebing karang
juga dalam suratmu kerudung merah muda selalu melilit dengan tinta-tinta
bukankah harus kurobohkan tiang-tiang pengikat!
ini kali dalam air mata meleh lilin tanpa api melainkan suara- suara kecil mirip nyanyian dari mulutmu
ya, kukenal renyah suaramu dengan lipatan hari yang tak begitu lama menguliti pohon-pohon hingga berakar rayap
dan jadwal esok dalam perziarahan menuju keindahan hitam jubahmu akan terselesaikan
(hujan masih mendekap perjalanan ritmisku dengan suratmu dan kubiarkan jiwa-jiwa tenang, hingga dua lampion yang bersinar itu tertawa dengan sepasang sayap dingin di punggungnya)

Soklancar, 21 Maret 2008